Senin, 26 Oktober 2009

Rukun Iman

Rukun itu perbuatan yang harus dilakukan untuk melengkapi suatu pemenuhan. Oleh sebab itu Rukun Iman itu perbuatan pembenaran atas untuk memenuhi kelengkapan iman sesorang sebagai orang beriman.

Rukun Iman ada enam yaitu :

Beriman Kepada Allah

Dengan Iman, kita membulatkan keyakinan dan menundukkan diri serta hati kita hanya kepada-Nya.Secara positifnya kita menuju Tauhid yang semurni-murninya dan secara negatif kita menolak segala bentuk pemujaan kepada selain Allah s.w.t.

Beriman Kepada Malaikat-Malaikat

Dengan Iman kita mempercayai bahawa adanya makhluk ghaib yang bernama Malaikat yang menjalankan tugasnya mengikut perintah Allah.Secara positif kita percaya kepada alam ghaib yang ditegaskan oleh Allah dan secara negatif kita menolak segala bentuk ghaib yang tidak dinyatakan Allah.

Beriman Kepada Rasul-Rasul

Dengan beriman kepada Rasul-Rasul, kita mempercayai adanya pesuruh-pesuruh Allah di muka bumi ini untuk dijadikan petunjuk dan teladan.

Beriman Kepada Kitab-Kitab

Dengan beriman kepada kitab-kitab suci, kita mempercayai adanya kitab-kitab Allah yang memimpin manusia, yang di akhiri oleh Kitab Al-Quran.

Beriman Kepada Hari Kiamat

Dengan Iman, kita mempercayai bahawa di sebalik kehidupan di dunia yang fana ini masih ada lagi kehidupan yang abadi dan berkekalan iaitu suatu tempat penentuan kedudukan manusia sama ada di syurga atau neraka.

Beriman Kepada Qada’ dan Qadar

Dengan beriman kepada qada’ dan qadar, kita mempercayai bahawa di samping kita berusaha dan merancang akan kehidupan di dunia ini, Allah telah menentukan segala sesuatu itu dan terletak di dalam kekuasaan-Nya.

1. Allah swt.


Allah SWT itu nama Tuhan sebagaimana pekenalan-Nya melalui Surat Thaahaa ayat 14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku…

Selain Nama, Allah juga memiliki gelar atau sebutan yang dikenal sebagai Asma’ul Husna (QS. 20:8).

Untuk memahami keberadaan Allah, Al Quran telah memberikan panduan bagi manusia baik dalam bentuk pengetahuan yang harus diimani maupun dalam bentuk restriksi/pembatasan yang harus ditaati. Dan untuk memahami siapa Allah telah diberikan penggambaran akan sifat-sifat-Nya sebagaimana dinyatakan Gelar atau Sebutan-Nya dalam Asmaul Husna itu.

Kekuasaan Allah

Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa sudah barang tentu tidak terikat oleh ruang dan waktu. Karena Allah-lah yang menciptakan waktu, dialah yang menciptakan alam ghaib dan alam nyata. Allah Oleh sebab itu dalam Al Quran Surat Al Hadid 57 : 3 disebutkan bahwa : Dialah yang awal dan Dialah yang Akhir. Dialah yang lahir maupun yang batin

Karena Kekuasaan-Nya, maka tiada sesuatupun yang dapat menandinginya. Dan bagi-Nya tidak ada yang semisal dengan-Nya. Lihat Al Quran Surat Asy-Syuura ayat 11. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia

Keesaan Allah

Allah itu Tuhan yang Maha Kuasa, Keberadaan-Nya tidak melalui kelahiran, dan tidak pula melahirkan. Sekiranya ada tuhan lain selain Allah, maka tuhan itu dapat dikatakan tidak Maha Kuasa lagi. Untuk itulah Allah dapat dipahami melalui Surat Al Ikhlas, Surat ke 112 yang terjemahannya :

  1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
  3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Untuk mamahmai perkembangan pemahaman ulama atas Keesaaan Allah (Tauhid) telah terdapat pendekatan-pendekatan yang dikenal sebagai Lima Aspek Keesaan (Ketauhidan) yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, Tauhid Hakimiyah, Tauhid Asmaa’ dan Tauhid Sifat.

2. Malaikat


Malaikat merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملاك) yang berarti kekuatan. Jadi malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah.

Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nuur)

man kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim.

Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman berserta tugas-tugas mereka adalah:

  1. Jibril – Menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah.
  2. Mikail – Membagi rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan.
  3. Israfil – Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat.
  4. Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk.
  5. Munkar – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam barzakh.
  6. Nakir – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam barzakh.
  7. Raqib – Mencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia.
  8. Atid – Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia.
  9. Malik – Menjaga neraka dengan bengis dan kejam.
  10. Ridwan – Menjaga sorga dengan lemah lembut.

Dari nama-nama malaikat di atas hanya tiga yang disebut dalam Al Qur’an, yaitu Jibril (QS 2 Al Baqarah : 97,98 dan QS 66 At Tahrim : 4), Mikail (QS 2 Al Baqarah : 98) dan Malik (QS Al Hujurat). Sedangkan Israfil, Munkar dan Nakir disebut dalam Hadits.

Nama Malaikat Maut, Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Kemungkinan nama malaikat Izrail didapat dari sumber Israiliyat. Dalam Al Qur’an dia hanya disebut Malaikat Maut.

Walau namanya hanya disebut dua kali dalam Al Qur’an, malaikat Jibril juga disebut di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan sebutan lain seperti Ruhul Qudus, Ruhul Amin dll.

Selain malaikat tersebut diatas Al Qur’an juga menyebutkan beberapa malaikat lainnya, seperti :

  • Malaikat Zabaniah – 19 malaikat penyiksa dalam neraka.
  • Hamalatul ‘Arsy – Empat malaikat pembawa ‘Arsy Allah, pada hari kiamat jumlahnya akan ditambah empat menjadi delapan.
  • Malaikat Rahmat (kitab Daqoiqul Akhbar)
  • Malaikat Harut dan Marut – Dua Malaikat yang turun di negeri Babil
  • Malaikat Hafazhah (Para Penjaga):
  1. Malaikat Kiram al-Katibun – Para malaikat pencatat yang mulia, ditugaskan mengawasi amal seorang hamba-Nya.
  2. Malaikat Mu’aqqibat – Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala ihwalnya.

Sifat Malaikat

Sifat-sifat malaikat yaitu mereka selalu patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka tidak diciptakan untuk membangkang atau melawan kepada Allah. Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta.

Malaikat tidak pernah lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak makan, minum atau tidur seperti manusia. Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan.

Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Beberapa nabi dan rasul telah di tampakkan wujud malaikat yang berubah menjadi manusia, seperti dalam kisah Luth, Maryam, Muhammad dan lain-lainnya.

Berbeda dengan ajaran Nasrani dan Yahudi, Islam tidak mengenal istilah “Malaikat Yang Terjatuh” (Fallen Angel). Iblis adalah nenek moyang Jin, seperti Adam nenek moyang Manusia. Jin adalah makhluk yang dicipta oleh Allah dari ‘api yang tidak berasap’, sedang malaikat dicipta dari cahaya.

Tempat tidak disukai Malaikat

Rumah-rumah yang akan dijauhi malaikat misalnya, rumah yang di dalamnya ada anjing, patung(gambar), dan bau busuk atau menyengat di rumah.

Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah]

Jibril pun enggan untuk masuk ke rumah rasulallah sewaktu ia berjanji ingin datang ke rumahnya, dikarenakan ada seekor anak anjing di bawah tempat tidur.

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing”. [HR Muslim]

3. KItabullah


Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah termasuk salah satu rukun iman, sebagaimana firman Allah azza wa jalla yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah ta’ala memerintahkan agar kita beriman kepada-Nya, kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, kepada kitab-Nya yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya yakni Al-Qur’an dan juga memerintahkan agar kita mengimani kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an. Dalam hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasu-lNya, hari Akhir dan hendaknya engkau beriman kepada qadar (takdirNya), yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Saudariku, perlu kita ketahui bersama bahwa keimanan kepada kitab-kitab Allah terkandung di dalamnya empat unsur, yaitu:

Pertama, adalah beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan dari sisi Allah ta’ala.

Kedua, beriman kepada apa yang telah Allah namakan dari kitab-kitabNya dan mengimani secara global kitab-kitab yang kita tidak ketahui namanya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” Ayat ini menunjukkan bahwa terdapat kitab bagi setiap Rasul, akan tetapi kita tidak mengetahui seluruh namanya. Adapun kitab-kitab yang kita ketahui namanya adalah Al-Qur’an Al-Karim yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalaam, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalaam, Suhuf Ibrohim, dan Taurat (Ada sebagian ulama yang menyatakan kitab yang diturunkan bagi nabi Musa ‘alaihissalaam adalah Taurat, ada pula yang menyatakan bahwa bagi nabi Musa ‘alaihissalaam terdapat kitab lainnya yaitu Suhuf Musa).

Ketiga, yaitu membenarkan berita-berita yang benar dari kitab-kitab tersebut sebagaimana pembenaran kita terhadap berita-berita Al-Qur’an dan juga berita-berita lainnya yang tidak diganti atau dirubah, dari kitab-kitab terdahulu (sebelum Al-Qur’an).

Keempat, yaitu mengamalkan hukum-hukum yang tidak dihapus (nasakh) serta dengan rela dan pasrah menerimanya, baik kita ketahui hikmahnya atau tidak. Ketahuilah saudariku, bahwa seluruh kitab yang ada telah terhapus (mansukh) dengan turunnya Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maa’idah 5:48). Artinya, Al-Qur’an sebagai ‘hakim’ atas kitab-kitab yang ada sebelumnya. Maka tidaklah diperbolehkan untuk mengamalkan hukum apapun dari hukum-hukum terdahulu, kecuali yang sah dan diakui oleh Al-Qur’an.

Buah Keimanan Kepada Kitab-Kitab Allah

Setelah mengetahui bagaimana mengimani kitab-kitab Allah secara benar, maka tentunya keimanan tersebut akan berdampak bagi diri seorang muslim. Diantara buah keimanan tersebut adalah:

  1. Mengetahui pertolongan Allah ta’ala pada hamba-hamba-Nya dimana Allah menurunkan kepada setiap kaum kitab yang memberi petunjuk pada mereka.
  2. Mengetahui dengan hikmah-Nya, Allah ta’ala mensyari’atka kepada setiap kaum sesuai dengan keadaan mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maa’idah 5:48)

Semoga kini engkau memahamibagaimana beriman kepada kitab-kitab Allah ta’ala secara benar. Kitab-kitab yang seluruhnya adalah kalamullah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada setiap Rasul. Tunduk dan berserah diri dengan apa yang ada pada kitab terakhir yang diturunkan yaitu Al-Qur’an dengan tanpa menafikan kebenaran yang ada pada kitab-kitab sebelumnya. Mengamalkan seluruh hukumnya tanpa memilih sebagian ayat dan menolak ayat lainnya yang ini merupakan tindakan kekufuran – na’udzubillahi min dzalik-. Semoga Allah memudahkan kita dalam menjalankan syari’at ini. Hanya Allah-lah tempat bersandar dan memohon pertolongan.

4. Nabi dan Rasul


Nabi adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syari’at namun tidak diperintah untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikannya. Menurut beberapa riwayat jumlah nabi yang diturunkan oleh Allah ke bumi ini sekitar 124.000 orang. Sekitar 315 orang dari mereka diangkat sebagai Rasul, dan hanya 25 orang Rasul yang wajib diketahui dan tertera didalam Al-Qur’an.

Perbedaan nabi dan rasul

Rasul adalah nabi yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada kaumnya pada zamannya. Percaya kepada para nabi dan para rasul merupakan Rukun Iman yang keempat dalam Islam.

Kata “nabi” berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ semestinya punya penglihatan ke tempat yang jauh (kias untuk masa depan) yang disebut nubuwwah. Para Nabi boleh menyampaikan wahyu yang diterimanya tetapi tidak punya kewajiban atas umat tertentu atau wilayah tertentu. Sementara, kata “rasul” berasal dari kata risala yang berarti penyampaian. Karena itu, para rasul, setelah lebih dulu diangkat sebagai nabi, bertugas menyampaikan wahyu dengan kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu. Dari semua rasul, Muhammad sebagai ‘Nabi Penutup’ yang mendapat gelar resmi di dalam Al-Qur’an Rasulullah adalah satu-satunya yang kewajibannya meliputi umat dan wilayah seluruh alam semesta ‘Rahmatan lil Alamin’.

Nabi dan rasul dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad yang ditugaskan untuk menyampaikan Islam dan peraturan yang khusus kepada manusia di zamannya sehingga hari kiamat. Isa yang lahir dari perawan Maryam binti Imran juga merupakan seorang nabi. Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf ayat 66-82. Terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun, Zulqarnain, Iys, dan Syits.

Sedangkan orang suci yang masih menjadi perdebatan sebagai seorang Nabi atau hanya wali adalah Luqman al-Hakim dalam Surah Luqman.

Rasul adalah seorang yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman: “Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu’jizat melainkan dengan seizin Allah. (Ghafir : 78)

Menurut beberapa riwayat jumlah nabi yang diturunkan oleh Allah ke bumi ini sekitar 124.000 orang. Sekitar 315 orang dari mereka diangkat sebagai Rasul, dan hanya 25 orang Rasul yang wajib diketahui dan tertera didalam Al-Qur’an.

Rasul-Rasul yang tertera didalam Al-Qur’an adalah :


5. Akhirat

Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian alba’ts (kebangkitan) menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

6. Qodho dan Qodar


Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.

Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari segi Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, dan
nabi-nabi…”
(Al-Baqarah:177)

”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu
menurut qadar (ukuran).”
(Al-Qomar: 49)

Juga sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam dalam hadits Jibril:
”Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulNya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)

Tajwid

Tajwīd (تجويد) dari segi bahasanya bermaksud melakukan sesuatu dengan elok yang berasal dari perkataan Jawwada. Pada istilah syarak, tajwid adalah ilmu yang boleh mengenalkan tempat bagi tiap-tiap huruf dengan memberi apa yang patut baginya dari segi sifat-sifat huruf itu seperti menyatakan dan menyembunyikan atau apa yang dimestikan bagi huruf-huruf itu dari sifat-sifat luar dari segi panjang, pendek, tebal, tipis dan sebagainya.

Anggaran ilmu tajwid itu ialah menyampaikan dengan sedalamnya kesempurnaan tiap-tiap sebutan dari ayat al-Quran. Para ulama menyatakan yang hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Quran adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf.

Hukum isti’azah dan basmalah

Isti’azah adalah lafaz: “A’uzubillahi minasy syaitaanir rajiim” (ﺍﻋﻮﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ)

manakala basmalah adalah lafaz: “Bismillahir rahmaanir rahiim” (ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺤﻤﻦ ﺍﻟﺮﺤﻴﻢ).

Terdapat empat cara membaca iati’azah, basmalah dan surah:

  1. Memutuskan isti’azah (berhenti) kemudian baru membaca basmalah.
  2. Menyambungkan basmalah dengan surah tanpa berhenti.
  3. Membaca isti’azah dan basmalah terus-menerus tanpa henti.
  4. Membaca isti’azah, basmalah dan awal surah terus-menerus tanpa henti.

Terdapat empat cara membaca basmalah di antara dua surah. Tiga daripadanya adalah harus dan satu lagi adalah tidak harus. Yang harus adalah:

  1. Mengasingkan basmalah denga surah
  2. Menghubungkan basmalah dengan awal surah
  3. Menghubungkan kesemuanya

Bacaan bagi yang tidak harus pula adalah:

  1. Menghubungkan akhir surah dengan basmalah lalu berhenti. Kemudian, barulah membaca surah yang seterusnya tanpa basmalah. Walau bagaimanapun, tidak harus membaca sebegini kerana ditakuti bahawa ada yang menganggap basmalah adalah salah satu ayat daripada surah yang sebelumnya.

Hukum mim dan nun bersabdu

Hukum mim dan nun bersabdu juga dikenali sebagai wajibal ghunnah (ﻭﺍﺟﺐ ﺍﻟﻐﻨﻪ) yang bermaksud diwajibkan dengung. Maka jelaslah yang bacaan bagi kedua-duanya adalah didengungkan. Hukum ini jatuh bagi setiap huruf mim dan nun yang mempunyai tanda sabdu atau bertasydid (ﻡّ dan نّ).

Antara contoh ayat yang ditunjukkan adalah: ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻨﱠﺔ ﻭَﺍﻟﻨﱠﺎﺱِ

Hukum alif lam ma’rifah

Alif lam ma’rifah adalah dua huruf yang ditambah pada pangkal kata nama atau isim yang menentukan maksud perkataan itu dan lain lagi. Terdapat dua jenis kes bagi alif lam ma’rifah apabila bersambung dengan ejaannya iaitu qamariah dan syamsiah.

Alif lam qamariah ialah lam yang bersambung terus daripada empat belas huruf ini iaitu hamzah (ء), ba’ (ب), jim (ج), ha’ (ح), kha’ (خ), ‘ain (ع), ghain (غ), fa’ (ف), qaf (ق), kaf (ك), mim (م), wau (و), ha’ () dan ya’ (ي). Ini diambil sempena perkataan al-qamar (ﺍﻟﻘﻤﺮ). Dari perkataan itu, jelas cara membacanya adalah tidak memasukkaan lam ke dalam huruf selepasnya tetapi mematikannya dengan jelas lalu menyebut huruf yang seterusnya.

Alif lam syamsiah ialah lam yag bersambung dengan empat belas huruf ini pula iaitu ta’ (ت), tha’ (ث), dal (د), dzal (ذ), ra’ (ر), zai (ز), sin (س), syin (ش), sod (ص), dhod (ض), tho (ط), zho (ظ), lam (ل) dan nun (ن). Ini diambil sempena perkataan asy-syamsiah (ﺍﻟﺸﻤﺴﻴﻪ). Dari perkataan tersebut, cara membacanya adalah dengan memasukkan ke dalam huruf selepas lam yang kebanyakkanya disabdukan dan lam tidak dibunyikan.

Hukum idgham

Idgham (ﺇﺩﻏﺎﻡ) adalah berpadu atau bercampur dua huruf atau memasukkan satu huruf ke dalam huruf yang lain. Maka, jelaslah harus dibaca dengan memasukkan bunyi huruf yang seterusnya. Terdapat tiga jenis idgham:

  1. Idgham mutamathilain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻤﺎﺛﻠﻴﻦ – yang serupa) ialah pertemuan dua huruf yang sama sifat dan makhrajnya (tempat keluarnya) dal bertemu dal dan sebagainya. Hukum adalah wajib diidghamkan. Contoh: ﻗَﺪ ﺩَﺨَﻠُﻮاْ.
  2. Idgham mutaqaribain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻘﺎﺭﺑﻴﻦ – yang hampir) ialah pertemuan dua huruf yang berhampiran sifat dan makhrajnya seperti ba’ bertemu mim, qaf bertemu kaf dan tha’ bertemu dzal. Contoh: ﻧَﺨْﻠُﻘڪُﻢْ
  3. Idgham mutajanisain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﺠﺎﻧﺴﻴﻦ – yang sejenis) ialah pertemuan dua huruf yang sama makhrajnya tetapi tidak sama sifatnya seperti ta’ dan tho, lam dan ra’ serta dzal dan zho. Contoh: ﻗُﻞ ﺭَﺏﱢ

Hukum mad

Mad bermaksud lanjut atau lebih. Dari segi istilah ulama tajwid dan ahli bacaan, mad bermaksud memanjangkan suara dengan lanjutan menurut kedudukan salah satu dari huruf mad. Terdapat dua bahagian mad iaiatu mad asli dan mad far’ie. Terdapat tiga huruf mad iaitu alif, wau, dan ya’ dan huruf tersebut haruslah berbaris mati atau saktah. Kepanjangan bacaan mad diukur dengan menggunakan harakat.

Hukum ra’

Hukum ra’ adalah hukum bagaimana membunyikan huruf ra’ dalam bacaan. Terdapat tiga cara iaitu kasar atau tebal, halus atau nipis, atau harus dikasarkan dan dinipiskan.
Bacaan ra’ harus dikasarkan apabila:

  • Setiap ra’ yang berbaris atas atau hadapan.

Contoh: ﺭَﺑﱢﻨَﺎ

  • Setiap ra’ yang berbaris mati dan huruf sebelumnya berbaris hadapan atau atas.

Contoh: ﻭَﺍﻻَﺭْﺽ

  • Ra’ berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris bawah yang mendatang, bukan baris yang asal.

Contoh: ٱﺭْﺟِﻌُﻮْﺍ

  • Ra’ berbaris mati dan sebelumnya huruf yang berbaris bawah tetapi ra’ tadi berjumpa dengan huruf isti’la’.

Contoh: ﻣِﺮْﺻَﺎﺪ

Bacaan ra’ yang dinipiskan adalah apabila:

  • Setiap ra’ yang berbaris bawah.

Contoh: ﺭِﺟَﺎﻝٌ

  • Setiap ra’ yang sebelumnya terdapat huruf lin

Contoh: ﺧَﻴْﺮٌ

  • Ra’ mati yang sebelumnya juga huruf berbaris bawah tetapi tidak berjumpa dengan huruf isti’la’.

Contoh: ﻓِﺮْﻋَﻮﻦَ

Bacaan ra’ yang harus dikasarkan dan dinipiskan adalah apabila setiap ra’ yang berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris bawah dan kemudian berjumpa dengan salah satu huruf isti’la’.

Contoh: ﻓِﺮْﻕ

·

    • Isti’la’ (ﺍﺳﺘﻌﻼ ﺀ): terdapat tujuh huruf iaitu kha’ (خ), sod (ص), dhod (ض), tho (ط), qaf (ق), dan zho (ظ).

Qalqalah

Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) adalah bacaan pada huruf-huruf qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik. Huruf qalqalah ada lima iaitu qaf (ق), tho (ط), ba’ (ب), jim (ج), dal (د). Qalqalah terbahagi kepada dua jenis:

  • Qalqalah kecil iaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli dan bukan mendatang.

Contoh: ﻴَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ, ﻴَﺪْﻋُﻮﻥَ

  • Qalqalah besar iaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu dimatikan dengan mendatang. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan apabila wakaf padanya tetapi tidak diqalqalahkan apabila diteruskan.

Contoh: ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ, ﻋَﻟَﻖٍ

Waqaf

Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan manakala dari sudut istilah tajwid pula ialah menghentikan seketika bacaan secara memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernafas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf:

  • Taamm (ﺗﺂﻡّ – wakaf sempurna) – apabila berhenti pada satu ayat yang putus, tidak berkaitan atau kena-mengena lagi dengan mana-mana kalimah atau perkataan sesudah ayat tersebut atau di hadapannya sama ada berkenaan lafaz atau makna.
  • Kaaf (ﻛﺎﻒ – wakaf memadai) – apabila berhenti pada satu ayat yang putus tidak ada kena-mengena dengan satu-satu kalimah atau perkataan sesudah ayat tersebut atau di hadapannya pada lafaz sahaja tetapi ada kena-mengena dalam maknanya.
  • Hasan (ﺣﺴﻦ – wakaf baik) – apabila berhenti pada satu ayat yang ada kena mengena dengan yang sesudah dan sebelumnya pada lafaz sahaja, dengan syarat yang diberhentikan itu telah memenuhi maknanya.
  • Qabiih (ﻗﺒﻴﺢ – wakaf buruk) – apabila berhenti pada satu-satu ayat tidak sempurna maknanya yang kadang-kala ayat itu ada berkaitan dengan ayat-ayat yang sebelum dan sesudahnya sama ada pada lafaz atau pada makna.

Tanda-tanda waqaf

  1. Tanda mim ( ) dikenali sebagai Waqaf Lazim. Adalah dikehendaki berhenti seketika apabila mim muncul. Jika tidak berhenti, kebarangkalian yang maknanya berubah.
  2. Tanda tho ( ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti seketika. Ia menunjukkan yang makna belum lagi dinyatakan sepenuhnya..
  3. Tanda jim ( ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih elok berhenti seketika di sini walaupun tidak berhenti adalah dibenarkan.
  4. Tanda zha ( ) bermaksud lebih elok TIDAK berhenti.
  5. Tanda sod ( ) dikenali sebagai Waqaf Murakhkhas, menunjukkan yang tidak digalakkan berhenti walaupun berhenti dibenarkan. Perbezaan antara hukum tanda zha dan sod adalah kegunaannya, dalam kata lain, keinginan untuk berhenti adalah lebih pada tanda sod
  6. Tanda sad-lam-ya’ ( ﺻﻠﮯ ) merupakan singkatan kepada “Al-wasl Awlaa” yang bermaksud “Sambung lebih elok”. Pembaca haruslah meneruskan bacaan kerana itu lebih elok.
  7. Tanda qaf ( ) merupakan singkatan kepada “Qeela alayhil waqf” yang bermakna “telah dinyatakan yang berhenti harus dilakukan ke atasnya”. Tidak perlu berhenti di sini.
  8. Tanda sod-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan kepadan “Qad yoosalu” yang membawa maksud “akan bersambung kadang-kala“. Kadang-kala seseorang akan berhenti manakala ada yang tidak walaupun berhenti lebih diutamakan.
  9. Tanda perkataan Qif ( ﻗﻴﻒ ) bermaksud berhenti! Ia muncul pada tempat yang kebarangkalian pembaca akan meneruskan bacaan tanpa henti.
  10. Tanda sin ( س ) atau perkataan Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil nafas. Dalam kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil nafas baru untuk meneruskan ayat.
  11. Tanda Waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) serupa dengan Saktah tetapi bezanya ialah waqaf pada Waqjah lebih lama berbanding Saktah.
  12. Tanda Laa ( ) bermaksud “Jangan!“. Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung mahupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, tidak dibenarkan berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak.
  13. Tanda kaf ( ) merupakan singkatan kepada “Kathaalik” yang bermaksud “serupa”. Dalam kata lain, tanda yang sama sebelumnya digunakan di sini.
  14. Tanda bertitik tiga ( ... ...) yang dikenali Waqaf Muraqabah (Berhenti Pemerhatian) atau Waqaf Ta’anuq (Terikat). Tanda ini kadang-kala diletakkan sekali huruf jim yang turut menjadi simbol bagi Mu’aanaqah ini. Ia akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membaca adalah Harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.

Diambil daripada “http://ms.wikipedia.org/wiki/Tajwid

Do’a sehari-hari

1. Do’a Hendak Belajar

Robbii zidnii ‘ilman warzuqnii fahman
Artinya: Ya Allah tambahkanlah ilmuku dan berikah aku pemahaman.

2. Do’a Akan Makan

AllaaHumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa’adzaabannaar
Artinya: Ya Allah berilah keberkahan atas rizki yang Engkau berikan dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.

3. Do’a Selesai Makan

Alhamdulillaahiladzii atth’amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa muslimiin
Artinya: Terima kasih Ya Allah yang telah memberi makan dan minum serta menjadikan kami orang-orang muslim.

4. Do’a Masuk Kamar Mandi / WC

AllaaHumma innii a’uudzubika minalkhubutsi wal khobaaits.
Artinya: Ya Allah lindungilah aku dari kotoran dan perbuatan dosa.

5. Do’a Keluar Kamar Mandi / WC

AlhamdulillaaHilladzii adzHaba ‘anniladzaa wa ‘aafaanii
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan dariku dan memberikan kesehatan dan keselamatan.

6. Do’a Akan Tidur

Bismika AllaaHumma ahyaa wa amuut
Artinya: Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah aku hidup dan aku mati.

7. Do’a Bangun Tidur

AllhamdulillaaHilladzii ahyanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaiHinnusyuur
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami dan mematikan kami dan kepada-Mu lah tempat kembali.

8. Do’a Keluar Rumah

BismillaaHii tawakkaltu’alallaaHu laa hawla walaa quwwata illaabillaah
Artinya: Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada-Nya.

9. Do’a Naik Kendaraan

Subhaanalladzii sakhkhorolanaa hadzaa wamaa kunna laHumuqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun
Artinya: Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasai dan sesuangguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.

10. Do’a Masuk Rumah

AllaaHumma innii as aluka khoiralmawlaji wa khoiralmakhroji
bismillaaHi walajnaa wa bismillaaHi khorojnaa wa’alallaaHi Robbinaa tawakkalnaa
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar, dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar dan kepada Allah wahai Robb kami, kami bertawakkal.

11. Do’a Bersin

Alhamdulillaah
Artinya: Segala puji bagi Allah.

12. Do’a Menjawab Bersin

YarhamukallaaHu
Artinya: Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.

13. Do’a Untuk Kedua Orangtua

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamHumaa kamaa robbayaa nii shoghiiroo
Artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangai aku sewaktu kecil.


14. Do’a Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat

Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaa bannaar
Artinya: Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.

15. Do’a Meminta Diberi Kesehatan

AllaaHumma ‘aafinii fii badanii, AllaaHumma ‘aafinii fii sam’ii, AllaaHumma ‘aafinii fii bashorii
Artinya: Ya Allah, berilah kesehatan pada badanku, Ya Allah berilah kesehatan pada pendengaranku, Ya Allah berilah kesehatan pada penglihatanku. (3X)

16. Do’a Ketika Hujan Turun

AllaaHumma shoyyiban naa fi’aan
Artinya: Ya Allah, semoga hujan yang Engkau berikan ini lebat dan membawa manfaat.

17. Do’a Sesudah Hujan Turun

Muthirnaa bifadhlillaaHi wa rohmatihi
Artinya: Kita diberi hujan karena keutamaan dan rahmat-Nya.

18. Do’a Ketika Bercermin

AlhamdulillaaHi kamaa hasanta kholqii fahassin khuluqiii
Artinya: Segala puji bagi Allah, baguskanlah kelakuanku sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku.

19. Do’a Berpakaian

AllaaHumma innii as aluka min khoiriHii wa khoirimaa HuwalaHu wa a’uudzubika min syarriHii wa syarrimaa HuwalaHu
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu, kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang ada padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan yang ada padanya.

20. Do’a Memohon Dijauhkan dari Kekafiran, Kefakiran dan Adzab Kubur

AllaaHumma innii a’uudzubika minal kufri walfakri wa a’uudzubika min’adzaabil qobri laa ilaaHa illaa anta
Artinya: AllaaHumma, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran, AllaaHumma, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, tiada Tuhan selain Engkau.


Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut (Al-A’raaf: 55)

Do’a membaca Al-Qur’an

Setelah membaca Qur’an , bacalah doa berikut:


اللهم ارحمنى بالقرأن واجعله لى إماما و نـورا و هدى ورحـمة. اللهم ذكرنى منه ما نسـيت وعلمني منه ما جهلت وارزقنى تلاوته أناء الليل و أطراف النهار واجعله لى حجة يا رب العالمـين

“Allahummar hamnii bil qur’aan waj’alhu lii imaamaaw wa nuuraw wa hudaw wa rahmah. Allahumma dzakkirnii minhumaa nasiita wa ‘alimna minhuma jahiltu wardzuknii tilaawatahu anaa allayli wa athraafan nahaari waj’alhulii hujjatallana laa hujjata yaa rabbil ‘aalamiin..”

“Ya Allah, rahmatilah aku dengan (barakah) Al-Quran. Jadikanlah ia pimpinan bagiku, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah aku dengan (melalui) Al-Quran apa-apa yang aku terlupa; ajarkan kepadaku melaluinya apa-apa yang aku tidak tahu; berilah aku kefahaman dari pembacaannya pada waktu malam dan tepian siang. Jadikanlah dia bagiku hujjah, Ya Tuhan semesta alam.” (H.R. Abu mansyur dari Abi Dzar )

Adab Membaca Quran
1.Disunnahkan berwudhu
2.Menghadap kiblat
3.Ada sikap penghormatan hati untuk :
a.Mengagungkan dan memuliakan Al-Quran,
b.Membenarkan dan meyakini
c.dan berniat mengamalkan Al-Quran
d.berniat untuk menyampaikan/mengajarkan lagi kepada orang lain
4.Memilih tempat yang bersih
5.Disunnahkan membaca Ta’awwudz pada permulaan bacaan.
Firman Allah :


فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (Q.S. An-Nahl : 98)
6.Sebagaimana memulai setiap perkataan dan perbuatan yang baik yang lain, maka memulai membaca Al-Quran pun dengan membaca Basmallah.
7.Sabda Nabi SAW :


كل أمر لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمـن الرحـيم فهو أجذم

Setiap perkara (amalan) yang tidak dimulai dengan membaca Bismillahirrahmanirrahiim, maka terputus berkahnya (bagaikan anggota badan yang terkena kusta) (H.R. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Mardawaih)
8.Membaca dengan tartil dan tajwid yang benar
9.Berusaha untuk menangis atau pura-pura menangis
10.Membaca dengan suara merdu
11.Boleh membaca jahar (dikeraskan) tetapi lebih baik dipelankan (terdengar oleh sendiri)
12.Memenuhi hak-hak Al-Quran
13.Tidak memotong bacaan dengan kegiatan lain
14.Al-Quran ditaruh di tempat yang dialas tinggi
15.Tidak menjadikan Al-Quran untuk bantal

Definisi Akhlak

1. Menurut Imam Abu Hamid Al-Gazali

Kata al-khalq ‘Fisik’ dan al-khuluq ‘akhlak’ adalah dua kata yang sering dipakai bersaman. Seperti redaksi bahasa arab ini, fulaan husnu al-khalq wa al-khuluq yang artinya “si fulan baik lahirnya juga batinnya”. Sehingga yang dimaksud dengan kata “al-khalaq” adalah bentuk lahirnya. Sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya.

Hal ini karena manusia tersusun dari fisik yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan dari ruh yang dapat ditangkap dengan batin. Masing-masing dari keduanya memiliki bentuk dan gambaran, ada yang buruk ada pula yang baik. Dan ruh yang ditangkap oleh mata batin itu lebih tinggi nilainya dari fisik yang ditangkap dengan penglihatan mata. Yang dimaksud dengan ruh dan jiwa di sini adalah sama. Kata al-khuluq merupakan suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perubahan-perubahan dengan mudah tanbpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu.


Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan syariat, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk. Al-khuluq adalah suatu sifat jiwa dan gambaran batinnya. Dan sebagaimana halnya keindahan bentuk lahir manusia secara mutlak tak dapat terwujud hanya dengan keindahan dua mata, dengan tanpa hidung, mulut dan pipi. Sebaliknya, semua unsur tadi harus indah sehingga terwujudlah keindahan lahir manusia itu.

Demikian juga, dalam batin manusia ada empat rukun yang harus terpenuhi seluruhnya sehingga terwujudlah keindahan khuluq “akhlak”. Jika keempat rukun itu terpenuhi, indah dan saling bersesuaian, maka terwujudlah keindahan akhlak itu. Keempat rukun itu antara lain:

1). Kekuatan ilmu
2). Kekuatan marah
3). Kekuatan syahwat
4). Kekuatan mewujudkan keadilan di antara tiga kekuatan tadi

1). Kekuatan Ilmu

Keindahan dan kebaikannya adalah dengan membentuknya hingga menjadi mudah mengetahui perbedaan antara juur dan dusta dalam ucapan, antara kebenaran dan kebatilan dalam beraqidah, dan antara keindahan dan keburukan dalam perbuatan. Jika kekuatan ini telah baik, maka lahirlah buak hikmah, dan hikmah itu sendiri adalah puncak akhlak yang baik. Seperti difirmankan Allah SWT. “…..Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak ….” (Al-Baqarah: 269).


2)Kekuatan marah

Keindahannya adalah jika mengeluarkan marah itu dan penahannya sesuai tuntutan hikmah.


3)Kekuatan syahwat


Keindahan dan kebaikannya adalah jika ia berada di bawah perintah hikmah. Maksudnya perintah akal dan syariat.

4). Kekuatan mewujudkan keadilan di antara tiga kekuatan tadi. Adalah kekuatan dalam mengendalikan syahwat dan kemarahan di bawah perintah akal dan syariat. Perumpamaan akal adalah seperti seorang pemberi nasihat dan pemberi petunjuk Kekuatan keadilan adalah kemampuan, dan perumpamaannya adalah seperti pihak yang menjadi pelaksana dan pelaku bagi perintah akal. Dan kemarahan adalah tempat yang padanya dilaksanakan perintah tadi itu. Perumpamaannya adalah seperti anjing pemburu, yang perlu dilatih, sehingga gerak-geriknya sesuai dengan perintah, bukan sesuai dengan dorongan syahwat dirinya. Sementara perumpamaan syahwat adalah seperti kuda yang ditunggangi untuk mencari hewan buruan, yang terkadang jinak dan menuruti perintah, dan terkadang pula binal. Siapa yang dapat mewujudkan kesimbangan unsur-unsur tadi, ia pun menjadi sosok yang berakhlak baiks secara mutlak. Sementara orang yang hanya dapat mewujudkan keseimbangan sebagian unsur itu saja, maka ia menjadi orang yang berakhlak baik jika dilihat pada segi yang baik itu saja, seperti orang yang sebagian wajahnya indah, sementara sebagian lainnya buruk. Keindahan kekuatan kemarahan dan keseimbangannya digambarkan dengan keberanian. Keindahan kekuatan syahwat dan keseimbangannya digambarkan dengan sifat iffah menjaga kesucian diri. Jika kekuatan marah seseorang cenderung ke arah bertambah maka ia dinamakan dengan tahwwur ‘sembrono’. Sedangkan, jika cenderung melemah dan berkurang maka dinamakan pengecut. Jika kekuatan syahwat cenderung bertambah maka ia dinamakan serakah, sedangkan jika cenderung melemah dan berkurang dinamakan statis.

Yang terpuji adalah sikap seimbang yang merupakan keutamaan, sedangkan dua sikap yang cenderung bertambah dan melemah adalah dua hal yang tercela. Sedangkan keadilan, jika ia terluput maka ia tak mempunyai dua sisi ekstrem, berlebihan atau kurang, tapi ia mempunyai satu lawan dan antonimnya, yaitu kezaliman. Sementara hikmah, tindakan menguranginya ketika menggunakannya dalam perkara-perkara yang tidak baik dinamakan kebusukan dan kerendahan. Sementara tindakan berlebihan padanya dinamakan kedunguan. Maka sikap pertengahannyalah yang dinamakan dengan hikmah. Dengan demikian, pokok-pokok utama akhlak ada empat, yaitu: Hikmah, keberanian, iffah, menjaga kesucian diri, dan keadilan. Hikmah adalah kondisi kekuatan kemarahan yang tunduk kepada akal, dalam maju dan mundurnya. Kesucian diri adalah melatih kekuatan syahwat dengan kendali akal dan syariat. Keadilan adalah kondisi jiwa dan kekuatannya memimpin kemarahan dan syahwat, dan membimbingnya untuk berjalan sesuai dengan tuntutan hikmah, juga memegang kendalinya dalam melepas dan menahannya, sesuai dengan tuntutan kebaikan. Dari keseimbangan pokok-pokok tersebut, terwujudlah seluruh akhlak yang mulia.


2. Menurut Muhammad bin Ali Asy-Syariif al-Jurjani

Al-Jurjani mendefinisikan akhlak dalam bukunya, at-Ta’rifat sebagai berikut: “Khlak adalah istilah bagi sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berfikir dan merennung. Jika sifat tersebut terlahir perbuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan syariat, dengan mudah, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak baik. Sedangkan jika darinya terlahir pebuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang buruk” kemudian Al-Jurjani kembali berkata “Kami katakan akhlak itu sebagai suatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, karena orang yang mengeluarkan derma jarang-jarang dan kadang-kadang saja, maka akhlaknya tidak dinamakan sebagai seorang dermawan, selama sifat tersebut tak tertanam kuat dalam dirinya.

Demikian juga orang yang berusaha diam ketika marah, dengan sulit orang yang akhlaknya dermawan, tapi ia tidak mengeluarkan derma. Dan hal itu terjadi kemungkinan karena ia tidak punya uang atau karena ada halangan. Sementara bisa saja ada orang yang akhlaknya bakhil, tapi ia mengeluarkan derma, karena ada suatu motif tertentu yang mendorongnya atau karena ingin pamer Dari pemaparan tadi tampak bahwa ketika mendefinisikan akhlak, al-Jurjani tidak berbeda dengan definisi Al-Ghazali. Hal itu menunjukan bahwa kedua orang ini mengambil ilmu dari sumber yang sama, dan keduanya juga tidak melupakan Hadits yang menyifati akhlak yang baik atau indah bahwa akhlak adalah apa yang dinilai oleh akal dan syariat.


3. Menurut Ahmad bin Musthafa (Thasy Kubra Zaadah)

Ia seorang ulama ensiklopedia – mendefinisikan akhlah sebgai berikut; “Akhlak adalah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan. Dan keutamaan itu adalah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan, yaitu; kekuatan berfikir, kekuatan marah, kekuatan syahwat. Dan masing-masing kekuatan itu mempunyai posisi pertengahan di antara dua keburukan, yakni sebagai berikut: Hikmah, merupakan kesempurnaan kekuatan berfikir, dan posisi pertengahan antara dua keburukan, yaitu: kebodohan dan berlaku salah.

Yang pertama adalah kurangnya Hikmah, dan yang kedua adalah berlebihan. Keberanian. Adalah kesempurnaan kekuatan amarah dan posisi pertengahan antara dua keburukan, yaitu kebodohan dan berlaku salah. Yang pertama adalah kurangnya keberanian.

Yang kedua adalah berlebihan keberanian. Iffah adalah kesempurnaan kekuatan sahwat dan posisi pertengahan antara dua keburukan, yaitu kestatisan dan berbuat hina. Yang pertama, adalah kurangnya sifat tersebut, sedangkan yang kedua adalah berlebihnya sifat tersebut.

Yang ketiga adalah Hikmah, keberanian dan iffah, masing-masing mempunyai cabang, dan masing-masing cabang tersebut merupakan tersebut merupakan posisi pertengahan anatara dua keburukan. Sedangkan sebaik perkara adalah pertengahnnya. Dan dalam ilmu akhlak disebutkan penjelasan detail tentang hal-hal ini.

Kemudian cara pengobatannya adalah dengan menjaga diri untuk tidak keluar posisi dari posisi pertengahan, dan terus berada di posisi pertengahan itu Topik ilmu ini adalah insting – insting diri, yang membuatnya berada di posisi petengahan antara sikap mengurangi dan berlebihan
Para ahli Hikmah berkata kepada Iskandar, “Tuan raja, hendaknya anda bersikap pertengahan dalam segala perkara. Karena berlebihan adalah keburukan sedangkan mengurangi adalah kelemahan” Manfaat ilmu ini adalah agar manusia sedapat mungkin menjadi sosok yang sempurna dalam perbuatan-perbuatannya, sehingga di dunia ia berbahagia dan di akherat menjadi sosok yang terpuji.


4. Menurut Muhammad bin Ali al-Faaruqi at-Tahanawi

Ia berkata, “Akhlak adalah keseluruhannya kebiasaan, sifat alami, agama, dan harga diri. Menurut definisi para ulama, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam diri dengan kuat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa diawalai berfikir panjang, merenung dan memaksakan diri. Sedangkan sifat-sifat yang tak tertanam kuat dalam diri, seperti kemarahan seorang yang asalnya pemaaf, maka ia bukan akhlak. Demikian juga, sifat kuat yang justru melahirkan perbuatan-perbuatan kejiwaan dengan sulit dan berfikir panjang, seperti orang bakhil. Ia berusaha menjadi dermawan ketika ingin di pandang orang. Jika demikian maka tidaklah dapat dinamakan akhlak.

Segala tindakan mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu seperti Qudrat ‘kemampuan’ berbeda dengan dudrat, yaitu ia tidak wajib ada bersama makhluk ketika ia mengerjakan sesuatu seperti wajibnya hal itu menurut para ulama Asy’ari dalam masalah Qudrat Kemudian at-Tahanawi berkata, “Akhlah terbagi atas hal sebagai berikut Keutamaan, yang merupakan dasar bagi apa yang sempurna Kehinaan, yang merupakan dasar bagi apa yang kurang. Dan selain keduanya yang menjadi dasar bagi selain kedua hal itu”

Penjelasannya adalah bahwa jiwa yang mampu berbicara, ketika berkaitan enggan fisik dan Pengendalian atas fisik, serta memerlukan tiga kekuatan

Pertama, kekuatan yang mampu memikirkan apa yang dibutuhkan dalam membuat perencanaan dan aturan. Yang dinamakan dengan kekuatan akal, kekuatan berbicara, insting, dan jiwa yang tenang dan dikatakan pula sebagai kekuatan yang menjadi dasar untuk memahami hakikat-hakikat, keinginan untuk memperhatikan akibat-akibat setiap perbuatan, dan membedakan antara yang mendatangkan manfaat dan mengasilkan kerusakan.

Kedua, kekuatan yang mendorong seseorang untuk mendapatkan apa yang memberi manfaat bagi fisiknya dan cocok dengannya, seprti makanan, minuman dan lainnya, dan hal itu dinamakan dengan kekuatan syahwat, unsur hewani dan nafsu amarah

Ketiga, kekuatan yang dapat menghindari seseorang dari sesuatu yang dapat merusak dan membuat pedih tubuhnya, dan hal itu dikatakan pula sebagai dasar untuk maju dalam keadaan sulit, dan pendorong untuk berkuasa dan meningkatkan derajat diri. Kekuatan ini dinamakan dengan kekuatan amarah dan ganas, serta nafsu lawwanah.

Kemudian ia berkata bahwa dari keseimbangan kondisi kekuatan instingtif lahirlah Hikmah, Hikmah itu adalah suatu keadaan kekuatan akal praktis yang berada pada posisi pertengahan antara berfikir terlalu mengkhayal kondisi berlebih dari kekuatan ini, yaitu ketika seseorang menggunakan kekuatan pemikiran untuk memikirkan apa yang tak seharusnya dipikirkan, seperti perkara-perkara yang mustasyaabihat ‘samat’ dan bentuk yang tak seharusnya sperti menyalahi syariat. Dan antara kebodohan dan kedunguan yang merupakan kondisi kekurangan Hikmah, yaitu ketika seseorang mematikan kekuatan berfikirnya secara sengaja. Dan berhenti dari mendapatkan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Keseimbangan kekuatan syahwat melahirkan sifat iffah menjaga kesucian diri iffah itu sendiri adalah kekuatan syahwat yang moderat antara bertindak berlebihan dan melanggar etika sifat kurangnya berarti jatuh dalam terus mengikuti dorongan merasakan kelezatan apa yang ia senangi, dengan kesatisan sifat lebihnya iffah yang merupakan kondisi vakum dari usaha mendapatkan kelezatan sesuai dengan kadara yang diperbolehkan akal dan syariat.

Dalam sifat iffah tersebut nafsu syahwat tunduk terhadap kekuatan Pikiran Kesimbangan kekuatan marah melahirkan keberanian. Keberanian itu adalah suatu kondisi kekuatan marah, yang bersifat moderat antara tindakan sembrono yang merupakan kondisi berani yang berlebihan yaitu maju untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan sifat pengecut, sikap khawatir atas apa yang tak seharusnya dikhawatirkan, dan ia adalah kondisi kurang berani. Dalam kekuatan keberanian ini, sifat buas menjadi tunduk kepada kekuatan berfikir, sehingga maju dan mundurnya kekuatan ini sesuai dengan pertimbangan pemikiran, tanpa mengalami kebingungan ketika menghadapi masalah-masalah besar, dan karena itu perbuatannya menjadi indah dan kesabarannya menjadi terpuji.

Jika keutamaan yang tiga itu bercampur, maka terjadilah dari percampuran itu kondisi yang sama, yaitu keadilan. Karena hal ini, maka keadilan digambarakan sebagai sikap tengah atau moderat, dan itulah yang dimaksud dengan Sabda Rasulullah sawa ini “Paling baik perkara adalah yang pertengahan”

Kemudian at-Tahanawi meneruskan perkataannya, dan ia pun berbicara tentang akhlah yang agung, ia berkata bahwa akhlak agung bagi para shalihin adalah berpaling daru dua semesta, dan menghadap hanya kepada Allah semata secara total. Al-Wasithi berkata bahwa akhlak yang agung adalah tidak memusuhi dan tidak dimusuhi Athaa berkata bahwa akhlak yang agung adalah melepaskan pilihan dan penolakannya atas segala kesulitan dan cobaan yang diturunkan Allah SWT. Akhlak yang agung bagi Nabi SAW adalah yang disinyalir dalam firman Allah SWT “Dan sesungguhnya kamu benar-benar-benar berbudi pekerti yang agung” (al-Qalam:4) dans sesuai yang dikatakan oleh Aisyah r.a bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, yang bertindak sesuai dengan Al-Qur’an dan telah tertanam kuat dalam diri, sehingga beliau menjalaninya tanpa kesulitan.

Ciri-ciri syaithon

Terdapat banyak ayat al-Qur’an dan hadis sahih yang menerangkan ciri-ciri syaitan. Semua ini didedahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kebaikan kita kerana dengan pengetahuan akan ciri-ciri syaitan, kita akan dapat mengetahui apa sifat mereka, sekadar mana kemampuan mereka dan bagaimana mereka bertindak.


Sebelum kita mengkaji ciri-ciri tersebut, sekali lagi saya ingin menasihati para pembaca yang budiman sekalian agar:

  1. Tidak berpaling atau membantah ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah yang dikemukakan.

  2. Tidak menilainya dengan akal atau cuba menselarikannya kepada akal dengan alasan “ciri-ciri tersebut ialah kiasan (majaz) semata-mata.”

  3. Tidak bertanya, berfikir dan menokok tambah dari apa yang sedia dijelaskan oleh al-Qur’an dan hadis.

Ciri # 1: Syaitan memiliki kepala.

Ciri ini diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami jadikan (pokok Zaqqum itu) satu ujian bagi orang-orang yang zalim.

Sebenarnya ia sebatang pohon yang tumbuh di dasar neraka yang marak menjulang,

buahnya seolah-olah kepala syaitan-syaitan.

[al-Saffat 37:63-65]

Ciri # 2: Syaitan memiliki dua tanduk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوبَهَا فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَيْ شَيْطَانٍ.

Janganlah kalian melaksanakan solat (sunat mutlak) pada waktu terbit matahari

(selepas subuh) dan terbenam matahari (selepas asar)

kerana pada waktu itu muncul dua tanduk syaitan.[2]

Ciri # 3: Syaitan memiliki hati, mata dan telinga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam

banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati

(tetapi) tidak mahu memahami dengannya (ayat-ayat Allah),

dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat

dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi)

tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat).

[al-A’raaf 7:179]

Sebagaimana yang dijelaskan sebelum ini, syaitan adalah dari jenis jin. Maka ciri-ciri yang dimiliki oleh jin dimiliki juga oleh syaitan. Dalam ayat 179 surah al-A’raaf di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahawa jin memiliki hati, mata dan telinga. Maka demikian jugalah bagi syaitan, ia juga memiliki hati, mata dan telinga.

Sebelum ini dalam bab “Asal Usul Permusuhan Syaitan Kepada Manusia”, kita mengetahui bahawa syaitan mendengar perintah Allah untuk sujud kepada manusia, menunjukkan bahawa syaitan memiliki telinga. Kemudian syaitan enggan sujud kerana takbur, dimana dua dari sikap takbur tersebut ialah ujub terhadap diri sendiri dan menghina kepada orang lain. Kedua-dua sikap ini merupakan peranan hati, menunjukkan bahawa syaitan memiliki hati.

Merujuk kepada penglihatan, syaitan dapat melihat manusia manakala manusia tidak dapat melihat syaitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan perbezaan ini:

Sesungguhnya syaitan dan kaumnya melihat kamu

dengan keadaan yang kamu tidak dapat melihat mereka.

[al-A’raaf 7:27]

Ciri # 4: Syaitan memiliki suara.

Syaitan juga memiliki suara dan boleh bercakap-cakap, membantah, menyoal, membisik dan menghasut dengannya. Semua ini dapat kita ketahui melalui dialog iblis dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Kami berfirman kepada malaikat:

“Sujudlah kamu kepada Adam”,

maka sujudlah mereka melainkan iblis; ia berkata:

“Patutkah aku sujud kepada (makhluk) yang Engkau jadikan dari tanah (yang di adun)?”

Ia berkata lagi: “Khabarkanlah kepadaku,

inikah orangnya yang Engkau muliakan mengatasiku?

Jika Engkau beri tempoh kepadaku hingga Hari Kiamat,

tentulah aku akan memancing menyesatkan zuriat keturunannya,

kecuali sedikit (di antaranya).”

Allah berfirman (kepada iblis): “Pergilah (lakukanlah apa yang engkau rancangkan)!

Kemudian siapa yang menurutmu di antara mereka,

maka sesungguhnya neraka Jahannamlah

balasan kamu semua, sebagai balasan yang cukup.

Dan desak serta pujuklah sesiapa yang engkau dapat

memujuknya dengan suaramu;

dan kerahlah penyokong-penyokongmu yang berkuda

serta yang berjalan kaki untuk mengalahkan mereka;

dan turut – campurlah dengan mereka dalam menguruskan harta-benda

dan anak-anak (mereka); dan janjikanlah mereka (dengan janji-janjimu).”

Padahal tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan itu melainkan tipu daya semata-mata.

[al-A’raaf 17:61-64]

Syaitan menggunakan suaranya untuk mengganggu manusia dengan pelbagai cara. Antaranya, bercakap kepada manusia melalui perantaraan batu, pokok, mata air dan haiwan. Umpama seseorang yang masuk ke hutan, tiba-tiba sebuah batu bercakap-cakap kepadanya: “Wahai Azlina! Kamu seorang wanita yang shalihah. Amalan kamu selama ini telah mencukupi. Kini memadai untuk kamu berzikir sahaja, tanpa perlu solat, puasa zakat dan haji.” Percakapan tersebut sebenarnya berasal dari syaitan.

Oleh kerana suara-suara syaitan inilah sebahagian masyarakat menganggap wujudnya “penunggu” atau “penjaga” di kawasan hutan, air terjun, padang pasir dan sebagainya. Kemudian ada pula yang memberi petua, apabila memasuki hutan ucapkanlah selawat kepada nabi sekian-sekian kerana dia adalah penjaganya. Apabila menghampiri kawasan air terjun ucapkanlah selawat kepada wali sekian-sekian kerana dia adalah penjaganya. Semua ini hanyalah tipu daya syaitan untuk menyesatkan umat Islam.

Ciri # 5: Syaitan memiliki akal.

Berdasarkan bantahan syaitan kepada Allah, dapat kita mengetahui bahawa syaitan memiliki akal. Ini kerana ia telah menggunakan logik akal untuk membantah perintah Allah, seperti kata-katanya:

· “Patutkah aku sujud kepada (makhluk) yang Engkau jadikan dari tanah?”

· “Khabarkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan mengatasiku?”

Akal adalah sesuatu yang dikurniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dengan akal tersebut makhluk dapat mentaati dan melaksanakan perintah larangan-Nya dengan cara yang tepat dan betul. Sebaliknya jika akal digunakan untuk mengukur logik atau tidak sesuatu perintah larangan Allah, maka ia adalah suatu penyimpangan yang mengkhianati kurniaan akal itu sendiri.

Ciri # 6: Syaitan ketawa.

Syaitan boleh ketawa. Ini dapat kita ketahui dari hadis berikut:

التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ

فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَان.ُ

Menguap adalah dari syaitan. Maka apabila seseorang kalian menguap,

tahanlah sedaya mungkin kerana sesungguhnya

apabila seseorang kalian menguap sambil berbunyi “Haaa”

maka ketawalah syaitan.[3]

Jika tidak dapat menahan diri dari menguap, maka tutuplah mulut yang sedang menguap dengan tangan dan jangan mengeluarkan apa-apa bunyi. Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajar kita:

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ.

Jika seseorang kalian menguap, maka tutuplah mulut dengan tangannya

kerana sesungguhnya syaitan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).[4]

Ada pun bersin, maka ia disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan perbezaan antara menguap dan bersin:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ

فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ

فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ.

Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.

Maka apabila (seseorang itu) bersin maka pujilah Allah

dan merupakan hak bagi setiap muslim yang mendengar

(saudaranya bersin) untuk mendoakannya.

Ada pun menguap, maka ia tidak lain berasal dari syaitan.

Tahanlah ia semampu mungkin dan apabila (yang menguap)

berbunyi “Haaa” maka ketawalah syaitan.[5]

Oleh itu Bagi orang yang bersin, hendaklah dia memuji Allah dengan menyebut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

“Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.”

Bagi yang mendengar orang bersin, dia berdoa:

يَرْحَمُكَ اللهُ.

“Semoga Allah merahmati kamu”.

Kemudian bagi yang bersin, dia menjawab kepada orang yang mendoakannya:

يَغْفِرُ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ.

“Semoga Allah mengampuni bagi kami dan bagi kalian.”[6]

Sekali pun bersin adalah sesuatu yang disukai, tidaklah bererti seseorang itu boleh bersin di hadapan muka orang lain, menghamburkan air liurnya atau bersin dengan suara yang kuat. Abu Hurairah radhiallahu ‘anh menerangkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ

أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوْتَهُ.

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersin,

baginda meletakkan tangannya atau bajunya

ke atas mukanya (mulut dan hidung) sambil merendahkan

(atau sambil menundukkan muka dan) suaranya.[7]

Ciri # 7: Syaitan memiliki tangan dan jari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ.

Apabila seseorang kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya

dan apabila minum, maka minumlah dengan tangan kanannya.

Ini kerana sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya

dan minum dengan tangan kirinya.[8]

Oleh kerana itu kita umat Islam sangat-sangat ditekan untuk makan dan minum dengan tangan kanannya. Penekanan ini turut merangkumi apa jua perkakas yang digunakan seperti sudu, garpu, chopsticks dan lain-lain, hendaklah semuanya dipegang dengan tangan kanan.

Pernah dahulu seseorang yang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan dengan tangan kirinya. Rasulullah menegur: “Makanlah dengan tangan kanan kamu.” Orang itu menjawab: “Aku tidak mampu.” Rasulullah menjawab: “Kamu tidak mampu?” Padahal dia enggan tidak lain kerana kesombongan. Perawi hadis, Salama bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anh kemudian menerangkan bahawa setelah itu lelaki tersebut tidak dapat mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.[9] Tangan kanannya menjadi lumpuh sejak dia membantah teguran Rasulullah.

Syaitan juga memiliki jari berdasarkan keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِينَ يُولَدُ

غَيْرَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ.

Setiap anak Adam (manusia) ketika lahir ditusuk di kedua tepi badannya

oleh syaitan dengan jarinya kecuali ‘Isa ibni Maryam,

syaitan hendak menusuknya tetapi hanya berjaya menusuk uri (ibunya).[10]

Ciri # 8: Syaitan makan dan minum.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “…sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya”, kita juga dapat mengetahui syaitan makan dan minum.

Syaitan makan apa-apa yang dibiarkan oleh kita, sama ada yang masih tersisa di pinggan atau apa yang terjatuh darinya. Oleh kerana itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita menghabiskan semua makanan dan mengutip apa yang terjatuh darinya. Tindakan ini bukan sahaja mengelak makanan tersebut daripada diambil oleh syaitan tetapi untuk kita memperoleh keberkatan yang sepenuhnya dari makanan tersebut. Anas bin Malik radhiallahu ‘anh berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلاًثَ.

قَالَ وَقَالَ: إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ.

وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ. قَالَ: فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ.

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan,

baginda menjilat jari-jarinya tiga kali.

Anas berkata, bahawa Rasulullah bersabda:

“Jika sesuatu makanan seseorang kalian jatuh,

hendaklah (dia mengambilnya) dan membersihkan apa-apa kotoran

yang melekat padanya lalu memakannya.

Janganlah meninggalkannya untuk syaitan.”

Anas melanjutkan: “(Rasulullah) juga menyuruh kami

untuk menghabiskan apa-apa sisa makanan.”

Baginda berpesan: “Ini kerana kalian tidak tahu

di bahagian manakah pada makanan kalian terdapat keberkatan.”[11]

Untuk mengelakkan apa-apa makanan dari tersisa, hendaklah kita sejak dari awal menyukat jumlah makanan yang diletakkan ke dalam pinggan. Ambil sekadar yang perlu tanpa berlebih-lebihan. Syaitan akan menghasut kita untuk mengambil secara berlebihan kerana berlebihan adalah salah satu bentuk pembaziran dan hubungan antara orang yang membazir dengan syaitan adalah:

Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara Syaitan.

[al-Isra’ 17:27]

Selain itu syaitan minum sambil berdiri.

Pada satu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang yang minum sambil berdiri. Baginda menegur: “Jangan begitu!” Orang itu bertanya: “Mengapa?” Rasulullah menjawab: “Adakah kamu suka minum bersama kucing?” Orang ituu menjawab: “Tidak.” Rasulullah meneruskan:

فَإِنَّهُ قَدْ شَرِبَ مَعَكَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ: الشَّيْطَانُ.

Sesungguhnya telah ikut serta minum bersama kamu

sesuatu yang lebih buruk darinya, iaitu syaitan.[12]

Oleh itu hendaklah kita sedaya upaya mengelakkan diri minum sambil berdiri. Jika suasana tidak mengizinkan, boleh minum sambil berdiri. Ini kerana dalam suasana terpencil lagi terdesak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minum sambil berdiri. ‘Abd Allah ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ.

Aku menghidang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam air zam-zam

dan baginda meminumnya sambil berdiri.[13]

Ciri # 9: Syaitan membuang air kecil.

Syaitan juga membuang air kecil, khasnya kepada orang yang tidur lena sepanjang malam sehingga matahari naik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya berkenaan orang yang tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Baginda menjawab:

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ (أَوْ قَالَ) فِي أُذُنِهِ.

Itu adalah orang yang syaitan kencing dalam kedua-dua telinganya

atau salah satu telinganya.[14]

Ciri # 10: Syaitan memiliki keturunan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Oleh itu, patutkah kamu hendak menjadikan iblis dan keturunannya

sebagai sahabat-sahabat karib yang menjadi pemimpin selain daripada-Ku?

[al-Kahf 18:50]

Ciri # 11: Syaitan memiliki pasukan tenteranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ إِبْلِيسُ بَثَّ جُنُودَهَ فَيَقُول: مَنْ أَضَلَّ مُسْلِمًا أَلْبَسْتُهُ التَّاجَ.

Pada waktu pagi, iblis mengutus pasukan tenteranya seraya berkata:

“Sesiapa yang berjaya menyesatkan seorang muslim

maka aku akan memakaikan mahkota kepadanya.”[15]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan bertahap-tahaplah dalam memujuk sesiapa yang engkau dapat dengan suaramu;

dan kerahlah penyokong-penyokongmu yang berkuda

serta yang berjalan kaki… [al-Isra’ 17:64]

Dengan pasukan tentera serta para penyokongnya, syaitan berusaha untuk membuat fitnah kepada manusia. Lebih hebat fitnah yang dilakukan, lebih besar pangkat dan anugerah yang dihadiahkan kepada tentera yang berjaya melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan strategi ketenteraan ini:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً.

يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا! فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ

فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ!.

Sesungguhnya iblis meletakkan singgahsananya di atas air.

Kemudian dia mengutuskan para tenteranya (untuk memfitnah manusia).

Di antara para tentera itu, mereka yang memiliki kedudukan

yang paling hampir dengannya ialah yang paling hebat dalam membuat fitnah.

Salah seorang dari tentera itu datang dan berkata:

“Saya telah melakukan sekian-sekian!”

Iblis menjawab: “Kamu belum melakukan apa-apa.”

Kemudian datang seorang tentera yang lain dan berkata:

“Tidaklah saya meninggalkan (orang yang saya ganggu) sehinggalah

dia menceraikan isterinya.”

Iblis menghampiri tentera itu dan berkata: “Anda hebat!”[16]

Di antara pasukan tentera syaitan ialah manusia, iaitu mereka yang telah berjaya dipengaruhinya untuk memusuhi Islam dan umatnya. Satu contoh ialah orang-orang musyrik dalam Perang Uhud yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebut sebagai penolong (al-Auliya’) syaitan:

Sesungguhnya yang demikian itu ialah syaitan yang menakut-nakutkan (kamu terhadap)

penolong-penolongnya (kaum kafir musyrik). Oleh itu, janganlah kamu takut kepada mereka,

tetapi takutlah kepada-Ku, jika betul kamu orang-orang yang beriman.

[‘Ali Imran 3:175]

Ciri # 12: Syaitan mencari tempat bermalam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ

قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ.

وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ

قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ.

وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ

قَالَ: أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ.

Apabila seorang itu memasuki rumahnya dan mengingati Allah (dengan membaca Bismillah) ketika memasukinya dan ketika ingin makan, berkatalah syaitan (kepada golongannya): “Kalian tidak memiliki tempat untuk bermalam dan tidak juga makanan malam.”

Sebaliknya apabila seorang itu memasuki rumah

dan tidak mengingati Allah ketika memasukinya,

berkatalah syaitan (kepada golongannya):

“Kalian telah mendapat tempat bermalam.”

Apabila seorang tidak mengingati Allah ketika makan,

berkatalah (syaitan kepada golongannya):

“Kalian telah mendapat tempat bermalam dan makan malam.”[17]

Demikian juga apabila kita hendak keluar rumah, maka kuncilah pintu sambil menyebut nama Allah. Nescaya syaitan tidak akan dapat membukanya. Tutuplah juga bekas-bekas makan dan minum, nescaya syaitan tidak dapat membukanya dan mencemarinya. Padamkan juga lampu agar dengan itu syaitan tidak dapat menyebabkan berlakunya kebakaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ

وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ

وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ.

Dan kuncilah pintu-pintu kalian dan sebutlah nama Allah

(dengan membaca Bismillah) kerana sesungguhnya syaitan

tidak dapat membuka pintu-pintu yang dikunci (dengan menyebut nama Allah).

Ikatlah kantong-kantong air kalian dan sebutlah nama Allah,

tutuplah bekas-bekas makanan kalian dan sebutlah nama Allah,

walau pun (tutupan) itu sekadar meletakkan sesuatu di atasnya

dan matikanlah lampu-lampu pelita kalian.[18]

Jika syaitan berjaya memasuki rumah untuk bermalam, syaitan akan bermalam dalam hidung para penghuni rumah tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ (أُرَاهُ أَحَدُكُمْ) مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ

فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ.

Apabila seseorang kalian bangun dari tidurnya dan berwudhu’,

maka (sedutlah air ke dalam hidungnya dan)

hembuslah air itu keluar sebanyak tiga kali

kerana sesungguhnya syaitan bermalam di lubang hidung kalian.[19]

Ciri # 13: Syaitan dapat bergerak pantas.

Makhluk jin dapat bergerak pantas, sekali pun dengan membawa beban yang amat besar lagi berat. Ini dapat kita ketahui dari sejarah Nabi Sulaiman ‘alaihi salam:

Nabi Sulaiman berkata pula: “Wahai pegawai-pegawaiku,

siapakah di antara kamu yang dapat membawa kepadaku singgahsananya

(Puteri Balqis dari Yaman ke Baitul Maqdis)

sebelum mereka datang mengadapku dalam keadaan berserah diri memeluk Islam?”

Berkatalah Ifrit dari golongan jin:

“Aku akan membawakannya kepadamu sebelum engkau bangun

dari tempat dudukmu, dan sesungguhnya aku amatlah kuat

gagah untuk membawanya, lagi amanah.”

[al-Naml 27:38-39]

Syaitan adalah dari jenis jin dan dengan itu kita mengetahui bahawa ia juga dapat bergerak pantas. Antara ketika ia bergerak pantas adalah apabila azan dilaungkan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلاَةِ وَلَّى وَلَهُ حُصَاصٌ.

Sesungguhnya syaitan apabila dikumandangkan azan,

ia akan berpaling dan lari dengan pantas.[20]

Ciri # 14: Syaitan dapat bergerak dalam badan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ.

Sesungguhnya syaitan bergerak dalam badan anak Adam

(manusia) seperti aliran darah.[21]

Ciri # 15: Syaitan dapat mempengaruhi manusia.

Tetap merujuk kepada hadis di atas berkenaan pergerakan syaitan dalam badan manusia, ia secara lebih terperinci berlaku ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang beriktikaf di masjid dan isterinya Shafiyyah radhiallahu ‘anha datang menziarahi baginda. Kemudian apabila Shafiyyah ingin pulang, Rasulullah mengiringinya hingga ke pintu masjid. Pada saat itu, dua orang sahabat dari kalangan Ansar radhiallahu ‘anhuma berlalu dan nampak Rasulullah bersama seorang wanita. Mereka berdua tidak tahu siapakah wanita tersebut kerana para isteri Rasulullah memakai tudung yang juga menutupi muka.

Untuk mengelakkan salah faham, Rasulullah memanggil dua lelaki tersebut dan menerangkan bahawa wanita yang bersamanya ialah Shafiyyah, isteri baginda. Kedua-dua lelaki itu menjawab: “Subhanallah!”, seolah-olah bermaksud: “Maha Suci Allah, tidaklah kami sekali-kali akan berburuk sangka kepadamu wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah membalas:

Apabila seseorang itu melakukan perkara yang aneh atau berlainan dari kebiasaan, hendaklah dia serta merta menjelaskan perbuatannya itu kepada orang-orang di sekeli-lingnya bagi mengelak syaitan mempengaruhi orang-orang tersebut dengan sesuatu sangkaan yang buruk.

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ

أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا (أَوْ قَالَ) شَيْئًا.

“Sesungguhnya syaitan bergerak dalam badan manusia seperti aliran darah.

Sesungguhnya aku bimbang ia melemparkan keburukan

atau sesuatu sangkaan dalam hati kalian berdua.[22]

Rasulullah membalas dengan menerangkan ciri-ciri syaitan yang mampu bergerak dalam badan manusia dan mempengaruhi hati manusia untuk berburuk sangka. Kedua-dua sahabat tersebut pada awalnya tidak berprasangka apa-apa terhadap Rasulullah. Akan tetapi mungkin sahaja syaitan menyelinap masuk dalam tubuh mereka beberapa saat kemudian sambil membisikkan sesuatu yang buruk, konon Rasulullah berdua-duaan dengan wanita yang tidak halal bagi baginda. Maka sebelum syaitan dapat memasuki dan mempengaruhi dengan sesuatu yang buruk, Rasulullah menerangkan bahawa wanita tersebut ialah Shafiyyah, isteri baginda sendiri.[23]

Berdasarkan hadis ini dapat diketahui ciri-ciri syaitan yang mampu mempengaruhi manusia dengan sesuatu yang menyelisihi tuntutan al-Qur’an dan al-Sunnah. Ia tidak terhad kepada berburuk sangka tetapi meliputi sikap-sikap lain seperti:

  • Syaitan mempengaruhi pemikiran manusia:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟

حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ.

Syaitan mendatangi seseorang kalian dan bertanya:

“Siapakah yang mencipta itu? Siapakah yang mencipta ini?”

sehinggalah ia bertanya: “Siapakah yang mencipta tuhan kamu?”

Maka jika ia bertanya soalan itu,

mintalah perlindungan dari Allah dan sudahilah

(dari melayani fikiran atau pertanyaan sedemikian).[24]

  • Syaitan berbisik kepada manusia:

Syaitan mampu berbisik kepada manusia sebagaimana ia mampu berbisik kepada Adam:

Setelah itu maka syaitan membisikkan kepadanya dengan berkata:

“Wahai Adam, mahukah aku tunjukkan kepadamu

pohon yang menyebabkan hidup selama-lamanya

dan kekuasaan yang tidak akan hilang lenyap?”

[Ta-Ha 20:120]

Bisikan syaitan lazimnya ke arah sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Atau sesuatu yang kelihatan seolah-olah selari dengan Islam padahal sebenarnya bertentangan. Bagi setiap manusia ada di sisinya malaikat dan syaitan, masing-masing membisikkan sesuatu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hakikat ini:

إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً

فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ

وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ

فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنْ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ

وَمَنْ وَجَدَ الأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.

Sesungguhnya bagi setiap anak Adam (yakni manusia)

ada sentuhan (bisikan) syaitan dan sentuhan (bisikan) malaikat.

Ada pun sentuhan syaitan, ia mengajak kepada keburukan dan mendustakan kebenaran.

Manakala sentuhan malaikat, ia mengajak kepada kebaikan dan menegakkan kebenaran.

Maka sesiapa yang merasai sentuhan (bisikan) kebaikan,

ketahuilah bahawa ia adalah dari Allah (melalui perantaraan malaikat)

dan hendaklah dia memuji Allah (dengan menyebut Alhamdulillah).

Sebaliknya sesiapa yang merasai sentuhan (bisikan) sebaliknya

hendaklah dia meminta perlindungan Allah daripada syaitan

(dengan menyebut A’uzubillahi minash syaitan nirrajim).[25]

Satu contoh mudah ialah adab minum air sebagaimana yang telah diterangkan dalam ciri syaitan # 8. Ketika anda memegang segelas air untuk minum, tiba-tiba hati anda berbisik untuk minum sambil duduk. Itu adalah bisikan malaikat. Kemudian muncul pula bisikan lain yang berkata: “Alaah! Tak mengapa, seteguk saja. Menyusahkan saja untuk duduk.” Itu adalah bisikan syaitan. Lawanlah ia dengan mengucap “A’uzubillahi minash syaitan nirrajim” kemudian duduk dan minumlah.

  • Syaitan mempengaruhi imajinasi manusia:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ

فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ.

Sesungguhnya seorang wanita tampil dalam gambaran syaitan

dan membelakangi dalam gambaran syaitan.

Maka jika seseorang kalian melihat wanita (yang dia tertarik dengannya),

maka kembalilah kepada isterinya

kerana itu akan menolak (lintasan jahat) dalam dirinya.[26]

Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan kemampuan syaitan membentuk gambaran atau imajinasi pada pemikiran seorang lelaki yang melihat wanita. Semua ini akan menyebabkan lelaki itu mula mengkhayal secara seksual akan wanita tersebut. Perkara ini tidak saja dilakukan oleh syaitan kepada lelaki yang melihat wanita tetapi juga kepada wanita yang melihat lelaki.

Gambaran atau imajinasi yang dibuat oleh syaitan dapat ditolak dengan masing-masing kembali kepada pasangannya. Jika belum bernikah atau tidak dapat kembali, maka jagalah pandangan masing-masing sejak dari awal.

  • Syaitan mempengaruhi tumpuan atau fokus manusia:

Antara tumpuan yang masyhur diganggu syaitan ialah kekhusyukan ketika solat dan membaca al-Qur’an. Seorang sahabat bernama ‘Utsman bin Abi al-‘Ash radhiallahu ‘anh mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya syaitan menghalang antaraku dan solat serta bacaan al-Qur’anku, dan ia selalu mengelirukan aku.” Maka Rasulullah menjawab:

ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا.

Itulah syaitan yang disebut sebagai “Khanzab”,

maka apabila merasai gang-guannya,

mohonlah perlindungan Allah darinya

dan ludahlah ke kiri sebanyak tiga kali.

‘Utsman bin al-‘Ash kemudian berkata:

“Aku melakukan itu dan Allah menjauhkan gangguan syaitan itu dariku.”[27]

Syaitan tidak saja mengganggu tumpuan solat tetapi aja jua aktiviti lain yang dilakukan kerana agama. Sebagai contoh, apabila anda ingin membaca buku agama, syaitan akan mengganggu tumpuan anda dengan tangisan bayi, anak yang meminta perhatian, perasaan mengantuk dan kesukaran untuk faham.

  • Syaitan mempengaruhi motivasi manusia melakukan kebaikan:

Syaitan mampu mempengaruhi motivasi kita apabila ingin melakukan sesuatu aktiviti demi kebaikan agama, seperti mengkaji al-Qur’an dan hadis, bersedekah, membuat kerja sukarelawan, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta berdakwah kepada orang ramai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan tidaklah Kami mengutuskan sebelummu seorang Rasul

atau seorang Nabi melainkan apabila dia bercita-cita

(untuk kebaikan agama yang dibawanya),

maka syaitan pun melemparkan hasutannya

mengenai usaha Rasul atau Nabi itu (dari) mencapai cita-citanya.

[al-Hajj 21:52]

Nah! Jika syaitan menghasut dan mengganggu para Nabi dan Rasul, sudah tentu syaitan juga akan menghasut dan mengganggu kita. Oleh kerana itulah, apabila kita ingin melakukan sesuatu aktiviti demi kebaikan agama, kita merasa sukar untuk memberi tumpuan penuh kepadanya. Selain itu akan ada saja pelbagai faktor yang menghalang atau menyukarkan sehingga kita hilang motivasi untuk meneruskannya. Ketahuilah bahawa semua itu adalah dari syaitan, maka lawanlah ia. Berhenti dari melakukan aktiviti yang dirancang adalah tanda mengalah kepada syaitan. Sebaliknya meneruskan apa yang dirancang dengan penuh motivasi dan dedikasi adalah tanda kemenangan di atas syaitan.

Antara contoh aktiviti yang dimaksudkan ialah bersedekah, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman!

Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik,

dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.

Dan janganlah kamu sengaja memilih

yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan

atau kamu jadikan pemberian zakat),

padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu

(kalau diberikan kepada kamu),

kecuali dengan memejamkan mata padanya.

Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya,

lagi sentiasa Terpuji.

Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan kepapaan

(jika kamu bersedekah atau menderma),

dan ia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji (bersifat bakhil kedekut);

sedangkan Allah menjanjikan kamu (dengan) keampunan daripada-Nya

serta kelebihan kurnia-Nya. Dan (ingatlah),

Allah Maha Luas limpah rahmat-Nya,

lagi sentiasa Meliputi Pengetahuan-Nya.

[al-Baqarah 2:267-268]

  • Syaitan mempengaruhi manusia dengan sikap terburu-buru.

Jika dalam kes di atas syaitan mempengaruhi kita dengan sikap negatif seperti malas, tidak berminat dan tiada motivasi, maka sebaliknya syaitan juga mampu mempengaruhi kita dengan sikap tergesa-gesa. Akhirnya berlaku apa yang berlawanan, seperti terlebih bersemangat (over excited), melampaui batas, mengharapkan hasil serta-merta dan kelam-kabut. Kemudian apabila apa yang diinginkan tidak menjadi, sikap tergesa-gesa di atas beralih kepada berputus asa, merungut, menuduh orang lain atas kegagalan diri sendiri dan sebagainya.

Ada pun Islam, maka ia menganjurkan sikap yang dipertengahan antara malas dan tergesa-gesa. Sikap tersebut ialah tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اَلتَّأَنِيْ مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ.

Ketenangan adalah dari Allah manakala ketergesa-gesaan adalah dari syaitan.[28]

  • Syaitan mempengaruhi manusia dengan perasaan cemburu:

Isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, A’isyah radhiallahu ‘anha menerangkan pada satu malam baginda keluar dari rumahnya dan ini menyebabkan dia merasa cemburu. Kemudian Rasulullah kembali ke rumah dan mendapati dia sedang dalam keadaan yang cemburu. Lalu baginda bertanya:

مَا لَكِ يَا عَائِشَةُ؟ أَغِرْتِ؟ فَقُلْتُ: وَمَا لِي لاَ يَغَارُ مِثْلِي عَلَى مِثْلِكَ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقَدْ جَاءَكِ شَيْطَانُكِ؟

قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْ مَعِيَ شَيْطَانٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَمَعَ كُلِّ إِنْسَانٍ؟

قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَمَعَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ وَلَكِنْ رَبِّي أَعَانَنِي عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ.

“Apa jadi kepada kamu wahai A’isyah? Adakah kamu cemburu?”

“Takkanlah aku tidak cemburu kepada orang seperti anda?”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan:

“Apakah telah datang kepadamu syaitan kamu?”

“Wahai Rasulullah! Apakah bersama aku ada syaitan?”

“Ya.”

“Dan (apakah syaitan itu ada) pada setiap manusia?”

“Ya.”

(Apakah syaitan juga) bersama kamu wahai Rasulullah?”

“Ya, akan tetapi Tuhanku telah menolongku darinya

sehingga aku selamat dari gangguannya.”[29]

  • Syaitan mempengaruhi manusia dengan perasaan marah:

Sulaiman bin Shurd radhiallahu ‘anh berkata:

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ

فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ.

Ketika aku sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

dua orang sedang bertengkar sehingga salah seorang dari mereka

menjadi merah wajahnya dan urat-urat lehernya timbul keluar.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimah yang jika diucapkan

nescaya kemarahannya akan hilang. Iaitu sebutlah

“A’uzubillahi minash syaitan” nescaya kemarahannya akan hilang.[30]

Terdapat dua faktor di sebalik kemarahan. Pertama ialah faktor peribadi, seperti orang yang marah kerana kedudukannya tidak dihormati atau kerana barangnya telah dirosakkan. Ini adalah marah yang tercela dan perlu dihindarkan. Kedua ialah faktor agama, seperti seorang muslim yang merasa marah kerana ajaran agamanya dirosakkan oleh muslim yang lain atau marah apabila umat Islam dizalimi oleh kaum lain. Ini adalah marah yang terpuji, akan tetapi tidaklah bermakna seseorang itu boleh terus bertindak kasar kerananya. Yang dituntut ialah tetap tenang dan berlemah lembut untuk menangani orang yang menyebabnya marah. Sikap tenang adalah berdasarkan hadis yang dikemukakan sebelum ini:

اَلتَّأَنِيْ مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ.

Ketenangan adalah dari Allah manakala ketergesa-gesaan adalah dari syaitan.[31]

Manakala sikap lemah lembut adalah berdasarkan hadis:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ.

Sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut dalam segala urusan.[32]

Jika dirujuk kepada sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan ditemui beberapa ketika baginda marah atas faktor agama. Akan tetapi kemarahan tersebut tidaklah menyebabkan baginda mengeluarkan kata-kata yang kotor atau bertindak ganas. Sebaliknya baginda hanya memberi teguran yang tenang lagi lemah lembut. Satu contoh ialah kisah berikut yang diriwayatkan oleh Abu Mas‘ud al-Anshari radhiallahu ‘anh.

Beliau menceritakan, seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Aku pernah mundur dari solat (berjamaah) disebabkan si-fulan (imamnya) membaca surah yang panjang.” (Abu Mas‘ud) menyambung: Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam amat dahsyat kemarahannya dalam rangka memberi nasihat berbanding pada saat itu. Lalu baginda bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مُنَفِّرُونَ فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ

فَإِنَّ فِيهِمْ الْمَرِيضَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

Wahai manusia! Sesungguhnya di antara kalian

ada yang membuat orang-orang lari dari solat berjamaah.

Maka sesiapa yang mengimami manusia,

hendaklah dia meringankan (memendekkan) bacaan

kerana sesungguhnya di kalangan mereka (makmum)

ada yang sakit, lemah dan berurusan.[33]

  • Syaitan mempengaruhi manusia dengan sifat lupa:

Terdapat dua jenis lupa. Pertama lupa dalam urusan harian seperti lupa dimana letaknya anak kunci rumah atau lupa membeli barang tertentu di kedai runcit. Kedua lupa dalam urusan agama seperti lupa solat atau hafalan al-Qur’an. Lupa jenis kedua berasal dari syaitan, kerana syaitan dapat mempengaruhi manusia dengan sifat lupa. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan apabila engkau melihat orang-orang

yang memperkatakan dengan cara mencaci atau mengejek-ejek ayat-ayat Kami,

maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka memperkatakan soal yang lain;

dan jika engkau dilupakan oleh syaitan (lalu engkau duduk bersama mereka),

maka janganlah engkau duduk lagi bersama-sama kaum yang zalim itu,

sesudah engkau mengingati (akan larangan itu).

[al-An’aam 6:68]

Walaubagaimana pun sesetengah kes lupa dari jenis pertama boleh berasal dari pengaruh syaitan kerana dengan kelupaan tersebut, seseorang itu mungkin menjadi marah dan merungut. Sikap negatif seperti ini adalah sesuatu yang disukai oleh syaitan. Maka jika lupa dalam urusan harian, hendaklah tetap tenang dan seterusnya mencari jalan untuk mengelaknya dari berulang pada masa akan datang. Satu contoh lupa jenis pertama ini yang berpunca dari syaitan ialah kisah berikut yang berlaku pada zaman Nabi Musa ‘alaihi salam:

Temannya berkata: “Tahukah apa yang telah terjadi

ketika kita berehat di batu besar itu?

Sebenarnya aku lupakan hal ikan itu

dan tiadalah yang menyebabkan aku lupa

daripada menyebutkan halnya kepadamu melainkan syaitan;

dan ikan itu telah menggelunsur menempuh jalannya di laut

dengan cara yang menakjubkan.”

[al-Kahf 18:63]

  • Syaitan mempengaruhi manusia dengan kesakitan:

Penyakit adalah sesuatu yang lazim dialami oleh manusia. Akan tetapi syaitan turut serta dengan sesuatu penyakit dengan menambah pengaruh kesakitan, kepayahan, kesengsaraan dan keluhan yang dialami:

Dan (ingatkanlah peristiwa) hamba Kami, Nabi Ayub,

ketika dia berdoa merayu kepada Tuhannya

(ketika menghadapi penyakitnya) dengan berkata:

“Sesungguhnya aku diganggu oleh syaitan dengan kesusahan dan siksaan.”

[Shad 38:41]

  • Syaitan mempengaruhi manusia untuk berbuat jahat:

Syaitan mampu mempengaruhi seseorang atau menghasutnya untuk berbuat jahat. Antara kejahatan tersebut ialah mengganggu orang yang sedang solat dengan cara sengaja melintas di hadapannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ.

Apabila seseorang kalian solat dengan menghadap sesuatu

(yang diletakkan) sebagai penghadang dari (lalu lintas) orang lain,

lalu ada orang yang hendak melintas di antaranya

dan penghadang itu, maka tahanlah dia.

Jika dia enggan (dan tetap berkeras untuk melintas)

maka tahanlah dia dengan lebih tegas

kerana dia tidak lain ialah syaitan.[34]

Dalam hadis di atas, yang akan melintas di hadapan orang yang sedang solat bukanlah syaitan tetapi orang yang dipengaruhi atau dihasut oleh syaitan. Ini kerana dalam sebuah riwayat lain, hadis di atas diakhiri dengan lafaz “…kerana sesungguhnya syaitan bersama dia.”[35]

Inilah juga yang dimaksudkan sebagai “syaitan-syaitan manusia” dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu

musuh dari syaitan-syaitan manusia dan jin,

setengahnya membisikkan kepada setengahnya yang lain

kata-kata dusta yang indah-indah susunannya

untuk memperdaya pendengarnya.

[al-An’aam 6:112]

Yang dimaksudkan dengan “syaitan-syaitan manusia” ialah manusia yang dipengaruhi dan dihasut oleh syaitan untuk berbuat jahat dan menjadi musuh kepada para Nabi. Penafsiran ini adalah berdasarkan perbezaan asal usul kedua-duanya, dimana syaitan berasal dari api manakala manusia berasal dari tanah.

Dalam rangka berbuat jahat, syaitan bukan sahaja mempengaruhi manusia tetapi juga mempengaruhi haiwan untuk berbuat jahat kepada manusia. Salah satu darinya ialah mempengaruhi tikus untuk menjatuhkan lampu-lampu pelita agar dengan itu dapat berlaku kebakaran di rumah.

‘Abd Allah ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menerangkan bahawa pernah seekor tikus menolak sebuah lampu pelita sehingga tumbang di atas tikar yang sedang diduduki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu terbakarlah tikar tersebut sebesar saiz satu dirham. Melihat yang sedemikian Rasulullah bersabda:

إِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوا سُرُجَكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدُلُّ مِثْلَ هَذِهِ عَلَى هَذَا فَتُحْرِقَكُمْ.

Apabila kalian hendak tidur maka padamkanlah lampu pelita kalian

kerana sesungguhnya syaitan menunjuki ini (tikus) kepada itu (lampu pelita)

sehingga kalian terbakar.[36]

Demikian beberapa kemampuan syaitan untuk mempengaruhi manusia. Selain apa yang disebut di atas, syaitan juga mampu mempengaruhi dengan sikap-sikap buruk yang lain. Tidak ketinggalan ialah sikap-sikap yang menyebabkan ia diusir dari langit, iaitu ujub, menghina, mengunggulkan akal di atas wahyu dan mempersoalkan wahyu.

Dalam kehidupan harian kita, sudah pasti satu atau lebih dari sikap-sikap di atas mempengaruhi kita. Pada waktu pagi kita mungkin marah, pada waktu petang kita mungkin cemburu, pada waktu petang kita mungkin berburuk sangka dengan rakan dan pada waktu malam kita mungkin merasa malas untuk pergi ke kuliah agama. Semua ini adalah pengaruh syaitan, maka lawanlah ia dengan mengucap “A’uzubillahi minash syaitan nirrajim” dan tinggalkan sikap-sikap yang buruk tersebut.

Ciri # 16: Syaitan dapat merasuk manusia.

Dalam dua ciri di atas, kita telah mempelajari kemampuan syaitan untuk bergerak dalam diri manusia dan melakukan pelbagai pengaruh ke atas manusia yang dimasukinya. Dalam suasana itu manusia yang dipengaruhi masih dalam keadaan yang normal. Akan tetapi adakalanya syaitan dapat mempengaruhi manusia hingga mengubah perwatakan dan tingkah lakunya, menjadi seolah-olah orang yang gila. Inilah yang disebut sebagai kerasukan atau histeria. Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan tentang kemampuan syaitan ini:

Orang-orang yang memakan (mengambil) riba

tidak dapat berdiri betul melainkan seperti berdirinya

orang yang dirasuk syaitan dengan terhuyung-hayang kerana sentuhan (syaitan) itu.

[al-Baqarah 2:275]

Kerasukan tidak saja terhad kepada orang yang melibatkan diri dalam urusniaga riba, tetapi meluas kepada pelbagai keadaan yang lain. Merujuk kepada persoalan kerasukan dan hubungkaitnya dengan syaitan, manusia terbahagi kepada tiga golongan:

  1. Mereka yang menafikannya. Golongan ini berkata, kerasukan tidak berpunca dari syaitan sebaliknya berpunca dari penyakit tertentu seperti gangguan saraf, perubahan hormon, tekanan jiwa (stress) dan sebagainya. Penyakit-penyakit ini dapat dihentikan dengan mengambil ubat.

  2. Mereka yang berlebih-lebihan. Golongan ini mengakui bahawa kerasukan berpunca dari syaitan. Akan tetapi mereka berlebih-lebihan dalam menyandarkannya kepada syaitan sehingga apa jua perubahan tingkah laku (behaviour) yang dihadapi oleh seseorang, mereka menganggapnya sebagai kerasukan syaitan.

  3. Mereka yang berada di pertengahan antara golongan pertama dan kedua. Golongan ketiga ini berkata kerasukan boleh berpunca dari penyakit dan boleh juga berpunca dari syaitan. Maka kerasukan pertama (penyakit) dihentikan dengan ubat-ubatan manakala kerasukan kedua (syaitan) dihentikan dengan zikir-zikir yang diajar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika tidak pasti kerasukan yang dialami oleh seseorang sama ada berpunca dari penyakit atau syaitan, maka ia dihentikan dengan ubat dan zikir.

Ada pun hujah golongan pertama bahawa kerasukan hanya berpunca dari penyakit, mereka membuktikannya dengan pelbagai penemuan baru tentang apa yang sedang berlaku dalam badan. Bahkan dengan peralatan serba canggih masa kini, mereka dapat menunjuk secara tepat bahagian saraf yang sedang mengalami gangguan dan keadaan hormon badan yang tidak seimbang. Maka apabila diberi ubat, apa yang dianggap sebagai kerasukan dapat dihentikan.

Akan tetapi, sekali pun dengan segala penemuan dan alat canggih tersebut, tetap timbul satu persoalan yang masih tidak dapat dijawab oleh para pakar perubatan: Mengapa saraf mengalami gangguan dan mengapa sebahagian kelenjar merembeskan hormon secara berlebihan? Benar, bahawa semua itu dapat dihentikan dengan mengambil ubat tertentu. Akan tetapi mengapakah kerasukan berulang apabila ubat habis dimakan?

Jawapannya dapat diperolehi dengan mengkaji peranan syaitan. Apabila syaitan memasuki tubuh badan manusia, ia mampu mengganggu kestabilan saraf dan keseimbangan hormon. Bahkan ia mampu melakukan pelbagai lagi yang tidak dianggap sebagai kerasukan, seperti mematikan saraf (paralyse), menyumbat saluran darah (blood clot) dan merangsang sel-sel tertentu untuk berkembang dengan pantas secara tak terkawal (tumor and cancer). Semua ini amat mudah bagi syaitan dan semua ini akan diakui oleh sesiapa yang mengkaji secara teliti kesemua ciri-ciri syaitan yang dikupas dalam bab ini.

Walaubagaimana pun, ini tidaklah bererti semua penyakit dan gangguan tingkah laku berpunca dari syaitan. Sebahagiannya berpunca dari faktor lain seperti gizi pemakanan yang tidak seimbang, kecederaan fizikal, tekanan jiwa, usia tua dan sebagainya. Maka tidaklah benar anggapan golongan kedua bahawa semua perubahan kelakuan berpunca dari syaitan.

Yang benar adalah bahawa kerasukan mungkin berpunca dari penyakit dan mungkin juga berpunca dari syaitan. Maka apa yang berpunca dari penyakit, ia dihentikan dengan ubat-ubatan yang diberi oleh doktor pakar manakala apa yang berpunca dari syaitan, ia dihentikan dengan zikir-zikir yang diajar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika tidak pasti sama ada kerasukan berpunca dari penyakit atau syaitan, maka kedua-dua kaedah digunakan serentak untuk menghentikannya.

Seterusnya, peranan syaitan dalam menyebabkan kerasukan kepada manusia terbahagi kepada dua kategori:

Kategori Pertama: Kerasukan yang dilakukan oleh syaitan berdasarkan kemahuannya sendiri. Sengaja syaitan merasuk manusia untuk menyesatkannya, mengkafirkannya, mensyirikkannya dan memasukkan mangsa tersebut ke dalam neraka. Semua ini dapat dicapai oleh syaitan apabila mangsa atau orang di sekelilingnya cuba mengubati kerasukan itu dengan cara yang berbeza dari tunjuk ajar Rasulullah, bahkan dengan cara yang dilarang oleh Islam.

Kategori Kedua: Kerasukan yang dilakukan oleh syaitan berdasarkan perintah tuannya. Ini disebut sebagai sihir. Sihir adalah satu tindakan jahat yang memerlukan dua unsur utama:

  1. Manusia sebagai ahli sihir sekali gus merangkap jawatan “Tuan”.

  2. Syaitan sebagai khadam yang melakukan kerja sihir yang diperintah oleh tuannya.

Melalui sihir syaitan dapat mencapai beberapa objektifnya. Secara terperinci:

· Objektif Menyesatkan: Apabila orang yang terkena sihir berubat, lazimnya mereka tidak tahu cara perubatan sahih yang diajar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berjumpa dengan mana-mana bomoh atau ustaz yang masyhur di sisi masyarakat untuk berubat dan menerima apa saja kaedah perubatan yang diberikan olehnya. Bahkan mereka tidak tahu apakah maksud jampi-jampian yang dibacakan ke atas mereka. Akibatnya, mereka telah meninggalkan jalan Rasulullah kepada jalan lain yang menyesatkan.

· Objektif Memusyrikkan: Apabila orang yang terkena sihir berubat, lazimnya mereka meletakkan keyakinan bahawa pengaruh kesembuhan adalah dari bomoh atau ustaz yang sedang mengubatinya beserta bacaan-bacaan jampi mereka. Padahal satu-satunya pengaruh untuk kesembuhan ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila keyakinan seseorang terhadap kuasa yang dapat memberi manfaat dan mudarat kepadanya beralih dari Allah kepada sesuatu yang lain, dia telah syirik kepada Allah.

· Objektif Mengkafirkan: Satu contoh mudah, apabila Jamal ingin berbuat jahat kepada Jamilah, dia akan menemui seorang ahli sihir bernama Ahmad dan menyampaikan hajatnya. Ahmad akan memerintah khadamnya, yakni syaitan, untuk membuat apa yang dihajatkan oleh Jamal ke atas Jamilah. Perbuatan itu pelbagai, dari muntah darah, gangguan pemikiran sehinggalah kepada kerasukan. Inilah yang lazim disebut sebagai “kena buat orang!”

Untuk melawan buatan sihir itu, Jamilah akan pergi menemui seorang ahli sihir lain bernama Kamal dan menyampaikan hajatnya. Kamal akan memerintahkan khadamnya, yakni syaitan, untuk membuatkan apa yang dihajatkan oleh Jamilah ke atas Jamal. Demikianlah ia berulang antara Jamal dan Jamilah.

Dalam contoh di atas, syaitan berjaya mengkafirkan kesemua Jamal, Jamilah, Ahmad dan Kamal. Sekali pun syaitan disebut sebagai “khadam”, sebenarnya ia adalah tuan kepada semua yang terbabit, termasuklah Ahmad dan Kamal. Syaitan hanya berpura-pura menjadi khadam asalkan dengan itu tercapailah objektifnya untuk mengkafirkan manusia.

Sesiapa saja yang terlibat dengan sihir, sama ada untuk menyihir atau melawan sihir dengan sihir, akan menjadi kafir berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Mereka mengikut ajaran-ajaran sihir yang dibacakan oleh puak-puak syaitan

dalam masa pemerintahan Nabi Sulaiman,

padahal Nabi Sulaiman tidak mengamalkan sihir yang menyebabkan kekufuran itu,

akan tetapi syaitan itulah yang kafir (dengan amalan sihirnya);

Kerana merekalah yang mengajarkan manusia ilmu sihir

dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat:

Harut dan Marut, di negeri Babil (Babylon),

sedang mereka berdua tidak mengajar seseorang pun

melainkan setelah mereka menasihatinya dengan berkata:

“Sesungguhnya kami ini hanyalah cubaan (untuk menguji imanmu),

oleh itu janganlah engkau menjadi kafir (dengan mempelajari sihir).”

[al-Baqarah 2:102]

. Objektif memasukkan ke dalam neraka: Orang yang berurusan dengan sihir akan menerima padah yang buruk di Hari Akhirat, termasuk diazab di dalam neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan sebenarnya mereka mempelajari perkara (sihir)

yang hanya membahayakan mereka

dan tidak memberi manfaat kepada mereka.

Dan demi sesungguhnya mereka telahpun mengetahui

bahawa sesiapa yang memilih ilmu sihir itu,

tidaklah lagi mendapat bahagian yang baik di Akhirat.

Demi sesungguhnya amat buruknya apa yang mereka pilih untuk diri mereka,

kalaulah mereka mengetahui.

[al-Baqarah 2:102][37]

Ciri # 17: Syaitan dapat mempengaruhi mimpi manusia.

Syaitan bukan sahaja mempengaruhi hati manusia tetapi juga mimpi yang dialami oleh manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالْحُلُمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلُمًا يَخَافُهُ

فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ.

Mimpi yang baik adalah dari Allah manakala mimpi yang buruk adalah dari syaitan.

Maka apabila seseorang kalian mengalami mimpi buruk yang menakutkannya,

hendaklah dia meludah ke arah kirinya dan minta perlindungan

dari Allah dari keburukannya kerana setelah itu ia

(mimpi tersebut) tidak akan mengakibatkan apa-apa kemudaratan.[38]

Mimpi buruk dari syaitan tidak terhad kepada sesuatu yang mengerikan (nightmare) sahaja. Dalam rangka mempengaruhi mimpi manusia, syaitan adakalanya menjelma sebagai seorang syaikh, wali atau tuan guru lalu menyampaikan sesuatu ajaran agama, seperti zikir-zikir dan amal ibadah yang menyalahi apa yang diajar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang sedang bermimpi menduga dia telah mendapat mimpi yang baik dari Allah padahal yang benar dia mendapat mimpi yang buruk dari syaitan. Dia menyangka telah mendapat satu syari‘at khusus dari Allah berbanding syari‘at awam yang dibawa oleh Rasulullah, padahal yang dia dapati hanyalah syari‘at kesesatan dari syaitan.

Berkaitan mimpi, ramai orang yang salah faham tentang hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَكَوَّنُنِي.

Sesiapa yang melihat aku dalam mimpi maka sungguh dia telah melihat dengan benar

kerana syaitan tidak dapat menyerupai aku.[39]

Mereka menganggap siapa jua yang mereka temui dalam mimpi yang memiliki ciri-ciri berjambang, memakai serban dan jubah putih serta menaiki unta dalam suasana padang pasir atau sedang berteduh di bawah pohon kurma, maka orang itu ialah Rasulullah.

Memang benar bahawa syaitan tidak boleh menjelma sebagai Rasulullah. Akan tetapi syaitan boleh menjelma sebagai seseorang lain lalu orang yang bermimpi mendakwa itu adalah Rasulullah. Lebih-lebih lagi apabila orang itu sendiri sebelum tidur melakukan sekian-sekian zikir dan selawat yang dipercayai boleh menghadirkan Rasulullah dalam mimpinya. Maka syaitan datang menjelma dalam mimpi sebagai seseorang yang berjambang, berserban, berjubah dan menaiki unta, lalu segera dianggap oleh orang yang bermimpi: Itu adalah Rasulullah.

Ciri # 18: Syaitan dapat beraktiviti.

Syaitan adalah satu makhluk yang memiliki kemahiran membuat, bertindak dan beraktiviti. Antara aktiviti tersebut ialah membuat bangunan dan menyelam untuk Nabi Sulaiman ‘alaihi salam:

(Sulaiman berdoa): “Wahai Tuhanku! Ampunkanlah kesilapanku

dan kurniakanlah kepadaku sebuah kerajaan

yang tidak akan ada pada sesiapapun kemudian daripadaku;

sesungguhnya Engkaulah yang sentiasa Melimpah kurnia-Nya.”

Maka (Kami kabulkan permohonannya lalu) Kami mudahkan baginya

menggunakan angin yang bertiup perlahan-lahan menurut kemahuannya,

ke arah mana sahaja yang hendak ditujunya.

Dan (Kami mudahkan bagi Sulaiman memerintah) syaitan:

golongan-golongan yang pandai mendirikan bangunan dan yang menjadi penyelam.

[Shad 38:35-37]

Jika syaitan mampu membina bangunan dan menyelam, maka mudah sangatlah bagi ia untuk melakukan aktiviti yang dianggap masyarakat sebagai satu mukjizat atau Karamah seperti air yang tiba-tiba mengalir keluar dari tanah yang tandus, makanan yang datang dari arah kubur seorang syaikh, al-Qur’an yang terbuka dan tertutup dengan sendirinya, lampu atau pelita yang menyala dan padam dengan sendirinya dan aktiviti-aktiviti lain yang di luar adat kebiasaan.

Syaitan melakukan semua itu kerana dua sebab:

  1. Syaitan tersebut dipelihara oleh tuannya dan tuannya ingin agar masyarakat menghormati dia dan menganggap dia sebagai wali. Maka dia mengarahkan syaitan peliharaannya melakukan aktiviti-aktiviti di luar adat kebiasaan untuk memberi pengaruh kepada masyakarat. Dengan ketipan jarinya, lampu akan menyala. Dengan tepukan tangan, rumah jiran yang condong ditiup angin kuat kembali tegak. Dengan satu senyuman, gadis yang kerasukan tiba-tiba sembuh dan tersenyum. Dengan mengangkat kedua tangannya, perahu yang tenggelam di laut dalam akan timbul. Bahkan syaitan mampu membawanya terbang dan bergerak pantas (Lihat Ciri # 13). Fenomena terakhir ini lazim dilakukan oleh pakar-pakar seni mempertahankan diri dimana mereka boleh terbang sambil melawan atau mengejar musuh. Ia juga dilakukan oleh para syaikh tareqat: sarapan di Masjidil Haram, makan tengahari di Masjidil Aqsa, minum petang di Kandahar, makan malam di rumahnya. Semua ini akan menyebabkan masyarakat memandang mereka sebagai seorang wali Allah.

  2. Syaitan ingin menyesatkan masyarakat setempat dan membawa fitnah kepada seorang hamba yang shalih. Maka syaitan menerbitkan mata air di tanah tandus berhampiran rumah orang shalih itu, menempatkan awan di atas rumahnya agar sentiasa teduh, mengarahkan angin untuk meniup daun-daun kering dari laman rumahnya dan membuka pintu pagar bagi sesiapa yang berhajat untuk mengunjunginya. Aktiviti-aktiviti di luar adat kebiasaan sebegini akan menyebabkan masyarakat segera menganggap orang shalih tersebut sebagai wali Allah.

Dalam kedua-dua kes di atas, apabila masyarakat mula menganggap seseorang itu sebagai wali Allah, mereka akan bersegera mengambil berkat darinya, meminta air jampi darinya, berdoa dengan perantaraannya, menggantung potretnya dan bersolat dengan menghadap gambarnya. Dengan semua ini tercapailah objektif syaitan untuk menyesat, mengkafir, memusyrik dan menjadikan mereka ahli neraka.

Khusus kepada kes kedua, ia lazim berlaku kepada para shaikh tasawuf. Mereka asalnya ialah para hamba Allah yang shalih lagi bertaqwa, yang mendisiplinkan diri untuk beribadah kepada Allah secara bersungguh-sungguh. Kemudian syaitan datang melakukan beberapa aktiviti di luar adat kebiasaan di sekelilingnya sehingga masyarakat menganggap dia adalah seorang wali Allah. Dari sini mulalah mereka mengagungkan dia dengan pelbagai amalan bid‘ah dan cerita-cerita fantasy. Akhirnya seorang hamba Allah yang shalih telah diangkat oleh masyarakat menjadi super wali dan pelbagai pemikiran serta amalan yang syirik dilakukan atas namanya.[40]

Ciri # 19: Syaitan dapat ditangkap.

Abu Darda radhiallahu ‘anh menerangkan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk bersolat, lalu ketika sedang solat, baginda berkata:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ.

“Aku berlindung kepada Allah dari engkau!”.

Kemudian baginda berkata:

أَلْعَنُكَ بِلَعْنَة اللَّهِ.

“Aku melaknat engkau dengan laknat Allah!”

Sebanyak tiga kali, sambil menghulurkan tangan seolah-olah ingin menangkap sesuatu.

Apabila baginda selesai solat, kami bertanya:

“Wahai Rasulullah! Kami mendengar kamu berkata dalam solat

sesuatu yang tidak pernah kami dengar kamu memperkatakannya

(ketika sedang solat) dan kami melihat kamu menghulurkan tangan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي

فَقُلْتُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

ثُمَّ قُلْتُ: أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ التَّامَّةِ فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَرَدْتُ أَخْذَهُ

وَاللَّهِ لَوْلاَ دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لأَصْبَحَ مُوثَقًا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ.

Sesungguhnya musuh Allah, yakni iblis, datang dengan membawa api

untuk dilemparkan ke muka aku.

Maka aku mengucap: “Aku berlindung kepada Allah dari engkau!” tiga kali.

Kemudian aku mengucap: “Aku melaknat engkau dengan laknat Allah!”

akan tetapi dia tidak mengundur diri. Kemudian aku bermaksud untuk menangkapnya.

Demi Allah! Jika bukanlah kerana doa saudara kami Sulaiman

nescaya ia akan terikat sehingga pagi

dan dijadikan mainan anak-anak warga Madinah.[41]

Berdasarkan hadis di atas, syaitan adalah satu makhluk yang boleh ditangkap, dikurung dan diikat. Hanya dari sudut syari‘at tindakan menangkap, mengurung dan mengikat makhluk jin dan syaitan tidak dibenarkan disebabkan oleh doa Nabi Sulaiman ‘alahi salam yang telah dikemukakan sebelum ini:

(Sulaiman berdoa): “Wahai Tuhanku! Ampunkanlah kesilapanku

dan kurniakanlah kepadaku sebuah kerajaan

yang tidak akan ada pada sesiapapun kemudian daripadaku;

sesungguhnya Engkaulah yang sentiasa Melimpah kurnia-Nya.”

[Shad 38:35]

Berdasarkan doa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menangkap iblis sekali pun baginda mampu melakukannya. Ini kerana tindakan tersebut hanya dibolehkan kepada Nabi Sulaiman dan dilarang kepada selainnya, termasuk Rasulullah dan umat baginda.

Bagi Rasulullah dan umat baginda, Allah yang akan mengikat iblis sekali setahun, iaitu sepanjang bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ.

Apabila masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu syurga dibuka,

pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan diikat.[42]

Berdasarkan hadis di atas juga dapat kita bezakan bahawa orang-orang yang memelihara atau menggunakan khidmat jin dan syaitan, mereka sebenarnya tidak mengikuti ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Jin dan syaitan sengaja membiarkan diri mereka diikat dan dijadikan khadam oleh tuannya agar dengan itu mereka dapat menjerumuskan tuan mereka ke dalam kesesatan.[43]

Ciri # 20: Syaitan memiliki waktu kegemaran.

Orang tua kita lazim berpesan, jangan bermain di luar ketika waktu senja. Pesanan ini berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ (أَوْ قَالَ جُنْحُ اللَّيْلِ) فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ

تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ الْعِشَاءِ فَخَلُّوهُمْ.

Apabila malam menjelang tiba maka tahanlah anak-anak kalian (dari keluar)

kerana sesungguhnya pada waktu itu syaitan-syaitan berkeliaran.

Apabila telah berlalu waktu Isya’, maka lepaskanlah mereka.[44]

Ciri # 21: Syaitan memiliki tempat kegemaran.

Syaitan juga memiliki tempat kegemarannya, atau apa yang dapat disebut sebagai tempat melepaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَكُونَنَّ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ وَلاَ آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا

فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ.

Selagi mampu, janganlah menjadi orang yang pertama memasuki pasar

dan janganlah menjadi orang terakhir keluar dari pasar

kerana sesungguhnya pasar adalah medan tempur syaitan

dan di situlah benderanya dicacak.[45]

Pada zaman kini pasar bukan sahaja merujuk kepada tempat menjual ikan dan sayur tetapi meluas kepada pasaraya, pusat membeli belah dan bursa saham.


[1] Penyusunan bab ini adalah berdasarkan manhaj Imam al-Bukhari rahimahullah (256H) yang telah meletakkan satu bab khusus dalam kitab Shahihnya, iaitu Sifat iblis dan para tenteranya. Dalam bab tersebut beliau telah meletakkan hadis-hadis yang menerangkan sifat-sifat atau ciri-ciri iblis, syaitan dan para tentera mereka. Lalu saya mengikuti manhaj tersebut dan menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis sahih dari kitab Shahih al-Bukhari dan selainnya berkenaan ciri-ciri syaitan ke dalam bab ini.

[2] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 828-2 (Kitab solat al-Musafirin…, Bab waktu-waktu yang dilarang solat padanya).

[3] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 3289 (Kitab Bad’i al-Khalq, Bab sifat iblis dan tenteranya).

[4] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2995 (Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq, Bab bersin dan kebencian menguap).

[5] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 6223 (Kitab al-Adab, Bab disukai bersin dan dibenci menguap).

[6] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Thabarani dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ al-Shagheir, hadis no: 686.

[7] Hasan Sahih: Dikeluarkan oleh Abu Daud dan dinilai hasan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud, hadis no: 5029 (Kitab al-Adab, bab berkenaan bersin). Syaikh Ismail bin Marsyud al-Rumaih memiliki buku kecil yang khas lagi menarik dalam bab ini, berjudul Adab al-Tatstsaub wa al-‘Uthas yang sudah diterjemah oleh Ismail Ali atas judul Adab Menguap dan Bersin yang diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor, 2004.

[8] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2020 (Kitab al-Asyrabah, Bab adab makan dan minum…).

[9] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2021 (Kitab al-Asyrabah, Bab adab makan dan minum…).

[10] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 3286 (Kitab Bad’i al-Khalq, Bab sifat iblis dan tenteranya).

[11] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2034 (Kitab al-Asyrabah, Bab disukai menjilat jari…).

[12] Sanad Sahih: Dikeluarkan oleh al-Darimi dan sanadnya dinilai sahih oleh Husain Salim Asad dalam semakannya ke atas Musnad al-Darimi, hadis no: 2174 (Kitab al-Asyrabah, Bab orang yang dibenci minum berdiri).

[13] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2027 (Kitab al-Asyrabah, Bab minum air zam-zam sambil berdiri).

[14] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 3270 (Kitab Bad’i al-Khalq, Bab sifat iblis dan tenteranya).

[15] Sanad Sahih: Dikeluarkan oleh Ibn Hibban dan sanadnya dinilai sahih oleh Syu‘aib al-Arna’uth dalam semakannya ke atas Shahih Ibn Hibban, hadis no: 6189 (Kitab al-Tarikh, Bab permulaan penciptaan, berkenaan khabar iblis yang meletakkan mahkota ke atas kepala tenteranya yang paling berjaya membuat fitnah).

[16] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2813-2 (Kitab Sifat al-Qiyamah wa al-Jannah…, Bab gangguan syaitan dan pengutusan tenteranya…).